Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Uang itu baru kita hitung setelah meninggalkan warung. Ada selembar yang berlebih. Di belakang, penjual sedang melayani pembeli lain dan tampaknya tidak menyadari kekeliruannya. Kita dapat terus berjalan. Jumlahnya kecil, jalan sedang panas, dan kembali berarti memutar langkah beberapa menit. Namun uang kecil itu tiba-tiba membawa pertanyaan yang lebih besar daripada nilainya: apakah sesuatu menjadi milik kita hanya karena orang lain tidak sempat menjaganya? Dompet masih terbuka, sementara hati mulai mencari alasan agar kaki tidak perlu berbalik.
Kesempatan semacam itu hadir dalam banyak bentuk. Penggantian biaya yang terhitung dua kali, barang pinjaman yang tidak ditagih, saldo salah kirim, atau pembayaran yang sengaja dibulatkan untuk keuntungan sendiri. Transaksi yang semakin cepat membuat kekeliruan mudah luput. Sebagian orang menamainya keberuntungan, sebagian menganggapnya terlalu kecil untuk dipersoalkan. Tetapi selisih yang ringan bagi satu pihak dapat berarti bagi pihak lain. Penjaga toko mungkin harus mencocokkan kas pada malam hari, sementara pemilik uang masih menunggu sesuatu yang tidak diketahuinya telah berpindah tangan.
Kita sering lebih mudah melihat pelanggaran besar daripada kelonggaran kecil yang menguntungkan diri sendiri. Kata hanya bekerja seperti kain penutup: hanya beberapa ribu, hanya sekali, hanya memakai sebentar. Perlahan ukuran yang dipakai bergeser dari hak menjadi kemungkinan ketahuan. Dalam perjalanan batin, ada perhatian pada radd al-maẓālim, pengembalian hak yang diambil atau ditahan secara tidak patut. Gagasan ini mengajak kita melihat arah tangan. Berapa pun kecilnya nilai, kita dapat bertanya dengan jernih apakah pemiliknya sudah menyerahkan hak itu atau kita sedang memutuskan untuknya.
Al-Ghazālī dalam pembahasan halal dan haram pada Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menghubungkan kehidupan ruhani dengan kehati-hatian dalam memperoleh serta menggunakan harta. Perhatian kepada penghidupan membuat tasawuf hadir di tempat yang sangat biasa: meja kasir, nota pembelian, dan pencatatan biaya. Kita dapat beribadah dengan tekun sambil tetap perlu memeriksa cara tangan menerima keuntungan. Hati memperoleh kesempatan untuk bersih ketika pencarian rezeki tidak dibangun di atas pengabaian hak orang lain. Pertanyaan tentang kejujuran karena itu layak diajukan juga saat tidak ada yang memeriksa.
Pusat edukasi antikorupsi KPK memberi contoh pendidikan kejujuran melalui kebiasaan sehari-hari, termasuk mengembalikan uang belanja secara utuh. Contoh itu terasa dekat karena nilai dapat dipelajari sebelum seseorang memegang jabatan atau anggaran besar. Anak memperhatikan apa yang kita lakukan ketika memperoleh kelebihan kembalian. Ia juga memperhatikan bagaimana kita menjelaskan tindakan tersebut. Kebiasaan kecil tentu bukan jaminan seseorang kebal terhadap korupsi. Namun ia menyediakan latihan yang konkret: mengenali kepunyaan orang lain, mengakui selisih, dan mengembalikannya tanpa menunggu penagihan atau ancaman hukuman.
Dalam adab sosial TQN, dzikir dibawa ke dalam pergaulan agar hubungan dengan الله membentuk perlakuan terhadap sesama. Tanbih mengajak kita menjaga budi dan tidak menuruti dorongan yang merusak hubungan manusia. Penerapannya pada transaksi menuntut keberanian memeriksa keuntungan sendiri. QS. al-Muṭaffifīn [83]: 1–3 memperingatkan orang yang menuntut ukuran penuh bagi dirinya tetapi mengurangi hak orang lain. Kita dapat membaca peringatan itu sambil menatap nota sendiri. Apakah kita memakai ukuran yang sama saat membayar dan menerima, saat menagih maupun ketika ternyata berutang?
Mulailah dari satu pemeriksaan sederhana: lihat transaksi terakhir yang menyisakan keraguan. Cocokkan jumlah yang semestinya dengan yang kita terima atau bayarkan. Bila ada kelebihan milik orang lain, hubungi pemilik atau penyedia layanan melalui jalur resmi yang tersedia. Untuk transfer yang tidak dikenal, minta bantuan bank memeriksa alurnya sebelum mengikuti arahan pengirim pesan. Di rumah, biasakan menyampaikan rincian uang belanja kepada orang yang menitipkan. Jika mereka kemudian memberikan selisihnya, terimalah dengan syukur. Pemberian memperoleh makna ketika keputusan memberi tetap berada pada pemiliknya.
Kejujuran juga membutuhkan sistem yang memungkinkan orang berbuat benar. Usaha kecil perlu menyediakan pencatatan yang mudah diperiksa dan cara mengoreksi kesalahan tanpa mempermalukan pekerja. Pembeli pun dapat membantu dengan memeriksa pembayaran sebelum pergi. Kita tidak perlu menuduh setiap selisih sebagai niat buruk; manusia dapat salah menghitung. Yang penting ialah kesediaan memperjelas dan menyelesaikannya. Ketika kekeliruan diperlakukan secara adil, orang tidak perlu memilih antara mengaku atau menyelamatkan harga diri. Pengembalian hak menjadi urusan bersama yang wajar, dapat dilakukan, dan tidak menunggu perkara membesar.
Kaki akhirnya berbalik menuju warung. Penjual menerima uang itu, mungkin dengan heran, mungkin dengan ucapan terima kasih yang singkat. Kita melanjutkan perjalanan tanpa memperoleh sesuatu yang layak dipamerkan. Dompet justru berkurang dari jumlah yang sempat ada di dalamnya. Namun satu batas telah dijaga: kesempatan mengambil tidak diberi kuasa untuk menentukan kepunyaan. Hari ini hati belajar melalui hitungan yang kecil, agar esok ia mempunyai ingatan ketika angka menjadi lebih besar. Kejujuran menjaga tangan tetap mengenali hak orang lain, bahkan ketika pemiliknya tidak sedang melihat.
End of Article