Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Kita menyentuh layar, lalu makanan datang, gambar tersaring, peta diperbarui, dan jawaban tersusun. Semuanya terasa seketika, seolah layanan digital tumbuh sendiri dari cahaya telepon. Namun di balik sentuhan itu ada pengemudi yang menunggu hujan reda, moderator yang melihat materi mengganggu, pekerja data yang memberi label ribuan gambar, dan petugas gudang yang mengejar hitungan waktu. Kemudahan di tangan kita sering berdiri di atas kerja manusia yang sengaja dibuat tidak terlihat.
Ekonomi platform menghadirkan peluang pendapatan dan keluwesan, tetapi juga pertanyaan tentang kepastian, keselamatan, penilaian pelanggan, dan keputusan algoritmik. Laporan ILO 2026 mengenai kerja platform di Asia dan Pasifik mencatat bahwa perkembangan perlindungan sering bergerak lebih lambat daripada model bisnisnya. Seorang pekerja dapat menerima perintah dari aplikasi, dinilai oleh sistem, dan kehilangan akses kepada pekerjaan tanpa pernah berhadapan dengan manusia yang dapat mendengar penjelasannya. Teknologi menjadi atasan tanpa wajah, sementara risiko tetap mempunyai tubuh.
Jarak digital memudahkan kita melupakan hubungan moral. Keterlambatan lima menit tampak seperti titik bergerak yang menjengkelkan, bukan pengendara yang menghadapi banjir. Konten aman tampak sebagai fitur otomatis, bukan hasil seseorang menyaring hal yang mungkin melukai pikirannya. Nafs konsumen menyukai dunia yang segera dan murah; ia tidak ingin mengetahui siapa yang membayar selisihnya. Ketika manusia disembunyikan dari proses, kita mudah meminta pelayanan sempurna sambil merasa tidak mempunyai kewajiban apa pun kepada pelayannya. Ketidaktampakan akhirnya menjadi cara paling halus untuk mengurangi empati.
‘Abd al-Wahhāb al-Sha‘rānī dalam al-Mīzān al-Kubrā menghadirkan keluasan hukum dan adab melalui gagasan timbangan yang mempertimbangkan keadaan manusia. Keadilan bukan memperlakukan setiap orang sebagai angka yang sama, melainkan melihat beban, kemampuan, dan konteks yang berbeda. Dalam dunia platform, timbangan itu menantang keputusan yang hanya mengejar kecepatan dan efisiensi. Skor tidak pernah memuat seluruh cerita; satu pembatalan dapat berasal dari sakit, kendaraan rusak, cuaca buruk, atau tanggung jawab keluarga yang tidak terbaca sistem.
Mary L. Gray dan Siddharth Suri menyebut lapisan ini ghost work: kerja manusia yang disembunyikan agar kecerdasan dan layanan digital tampak sepenuhnya otomatis. Dalam buku Ghost Work, mereka memperlihatkan bahwa banyak sistem modern tetap bergantung pada keputusan mikro manusia, sering tanpa perlindungan dan pengakuan memadai. Nama “hantu” bukan karena para pekerjanya tidak nyata, melainkan karena desain layanan membuat kita tidak perlu memikirkan keberadaan mereka. Tasawuf justru melatih pandangan untuk melihat yang dihapus oleh kenyamanan.
Tradisi khidmah mengubah relasi antara yang melayani dan yang dilayani. Pelayanan bukan alasan merendahkan seseorang; ia adalah tempat martabat kedua pihak diuji. Orang yang menerima layanan tetap mempunyai kewajiban adab: berbicara layak, tidak mempermainkan waktu, dan tidak menjadikan kuasa memberi bintang sebagai alat ancaman. Bagi pemilik platform dan pemberi kerja, khidmah berarti sistem harus ikut melayani manusia yang menopangnya—melalui aturan jelas, penghasilan patut, perlindungan, serta jalur banding kepada manusia.
Hari ini, pilih satu layanan digital yang sering digunakan dan telusuri rantai manusianya. Ketika memesan, berikan petunjuk yang jelas, waktu yang masuk akal, dan penilaian yang adil; jangan menghukum pekerja untuk kesalahan aplikasi. Bila mampu, hindari promosi yang jelas-jelas memindahkan biaya secara tidak wajar kepada pekerja. Di tempat kerja, tanyakan siapa yang membersihkan data, memeriksa konten, mengantar, dan menangani keluhan. Sebut nama perannya dalam rapat agar kerja yang tersembunyi kembali masuk ke dalam keputusan.
Adab konsumen memang tidak dapat menggantikan regulasi dan perlindungan kolektif. Senyum dan tip tidak menyelesaikan ketidakpastian status kerja, akses jaminan sosial, atau ketertutupan algoritma. Namun kebijakan yang adil juga bermula dari imajinasi moral: kemampuan masyarakat melihat pekerja sebagai subjek yang mempunyai suara. Kita dapat mendukung transparansi, mekanisme keberatan nonotomatis, dan hak berorganisasi. Kesalehan pribadi menemukan kedewasaannya ketika ia berani mempertanyakan kenyamanan yang dibayar oleh kerentanan orang lain.
Layar akan tetap menyala dan layanan mungkin semakin cepat. Tetapi setiap kali sebuah ikon bergerak mendekati rumah, ingatlah bahwa ada waktu, tenaga, keluarga, dan kecemasan yang ikut menempuh jalan. Dunia digital tidak menjadi kurang canggih ketika manusia di baliknya terlihat; ia justru menjadi lebih jujur. Kemudahan yang pantas disyukuri adalah kemudahan yang tidak menghapus pemberinya dari pandangan dan perhitungan. Di balik layanan yang tampak tanpa manusia, selalu ada martabat yang menunggu untuk dihitung.
End of Article