Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Pernahkah seorang anak memanggil, “Ayah… Ibu…,” lalu harus mengulanginya karena mata kita masih tertahan pada layar? Mungkin kita mendengarnya, tetapi tidak sungguh hadir. Beberapa detik kemudian ia pergi, kembali kepada gim, video, atau dunianya sendiri. Kita lalu mengeluh karena anak semakin sulit diajak berbicara. Padahal mungkin, tanpa sadar, ia sedang belajar dari kita: ketika layar menyala, manusia di hadapan kita boleh menunggu. Sebelum bertanya mengapa anak begitu melekat pada gawai, barangkali orang tua perlu lebih dahulu bertanya: seperti apa hubungan kita sendiri dengan layar?
Persoalan digital anak tidak selesai hanya dengan menyita telepon. Anak mungkin berhenti memegang gawai, tetapi tidak otomatis mengetahui apa yang harus dilakukan dengan kesunyian yang tersisa. Larangan tanpa pendampingan hanya memindahkan masalah. Ia membutuhkan alternatif yang lebih hidup: percakapan, permainan, buku, olahraga, pekerjaan rumah bersama, perjalanan singkat, atau sekadar waktu untuk merasa bosan. Batas tetap diperlukan, tetapi batas tanpa kedekatan mudah terasa sebagai hukuman. Anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang mengatakan kapan layar harus dimatikan, tetapi juga seseorang yang membuat kehidupan di luar layar terasa layak untuk dijalani.
Algoritma memiliki kesabaran luar biasa untuk mempelajari anak kita. Ia merekam apa yang ditonton lebih lama, apa yang disentuh, apa yang dilewati, lalu menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditolak. Tetapi apakah kita memiliki kesabaran yang sama untuk mengetahui apa yang sedang tumbuh dalam jiwanya? Apa yang membuatnya takut? Mengapa ia terus bermain? Apakah ia mencari hiburan, teman, pengakuan, atau tempat melarikan diri? Algoritma mengenal pola perilakunya; orang tua seharusnya mengenal isi hatinya. Jangan sampai mesin mengetahui perhatian anak lebih baik daripada orang yang setiap hari tidur di rumah yang sama dengannya.
Tradisi tasawuf sejak lama memahami bahwa manusia tidak dibentuk hanya oleh pengetahuan, tetapi oleh adab, latihan, lingkungan, dan kebiasaan yang terus diulang. Dalam ‘Awārif al-Ma‘ārif, al-Suhrawardī menempatkan pendidikan ruhani dalam disiplin kehidupan yang membentuk jiwa secara perlahan. Anak pun demikian. Kita tidak dapat berharap ia memiliki pengendalian diri hanya dengan sekali nasihat. Cara makan, berbicara, menggunakan waktu, menghormati orang lain, bahkan cara meletakkan telepon harus menjadi latihan yang berulang. Tarbiyah al-nafs bukan ceramah panjang tentang kebaikan; ia adalah kebaikan kecil yang dilakukan cukup sering hingga perlahan menjadi watak.
Sonia Livingstone dan Alicia Blum-Ross, melalui kajian mereka tentang parenting di era digital, memperlihatkan bahwa orang tua hidup dalam dilema yang nyata. Teknologi memang membawa risiko, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan, pertemanan, kreativitas, dan kehidupan masa depan anak. Karena itu, tugas keluarga bukan membangun rumah yang steril dari teknologi. Yang jauh lebih penting adalah menciptakan budaya digital keluarga: kapan perangkat digunakan, untuk apa, di ruang mana, dan kapan seluruh anggota keluarga harus kembali saling memandang. Pertanyaan terbaik bukan hanya “berapa jam anak memegang layar?”, tetapi “apa yang terjadi pada dirinya selama dan setelah layar itu digunakan?”
Syeikh Muḥammad ‘Abd al-Ghaos Saefulloh Maslul dalam Faḍā’il al-Syuhūr menghadirkan perumpamaan yang sangat tajam: nafs seperti anak kecil; apabila terus dituruti keinginannya, ia akan terus meminta, tetapi bila dilatih untuk berhenti, ia dapat belajar melepaskannya. Di sinilah batas menemukan makna spiritualnya. Tidak semua keinginan anak harus segera dipenuhi hanya karena kita mampu membelinya. Ada cinta yang hadir dalam pemberian, tetapi ada pula cinta yang justru berbentuk kata “cukup”. Membiarkan setiap keinginan terpenuhi bukan selalu kasih sayang; terkadang kita sedang mendidik nafs agar percaya bahwa dunia harus selalu mengikuti kemauannya.
Mulailah dari aturan yang juga berlaku bagi orang dewasa. Tetapkan satu atau dua waktu tanpa perangkat: misalnya ketika makan bersama dan tiga puluh menit sebelum tidur. Jangan meminta anak menaruh telepon sementara orang tua tetap membaca pesan. Sediakan satu percakapan setiap hari yang tidak berisi interogasi tentang sekolah, nilai, atau kesalahan: “Apa yang paling menyenangkan hari ini?” atau “Ada sesuatu yang sedang membuatmu kepikiran?” Sesekali biarkan rumah sedikit sunyi. Anak perlu mengetahui bahwa kebosanan tidak berbahaya. Dari ruang kosong itulah imajinasi, percakapan, dan kemampuan bersama diri sendiri mulai bertumbuh.
Pendidikan digital yang matang bukan membuat anak takut pada teknologi. Kita justru perlu mempersiapkan manusia yang dapat memasuki dunia digital tanpa kehilangan dirinya di sana. Ia mampu menikmati gim tanpa diperbudak gim, menggunakan media sosial tanpa menilai harga dirinya dari jumlah tanda suka, mencari informasi tanpa mempercayai semua yang muncul di layar, dan mematikan perangkat ketika sesuatu yang lebih penting memanggil. Amanah orang tua bukan mengendalikan anak selamanya. Kita sedang mempersiapkannya agar suatu hari mampu menjaga dirinya ketika kita tidak lagi berdiri di sampingnya.
Barangkali suatu hari anak tidak lagi meminta izin berapa lama ia boleh menggunakan telepon. Ia akan memiliki perangkat, uang, kebebasan, dan dunia yang tidak dapat selalu kita awasi. Pada saat itulah pendidikan yang sesungguhnya diuji: apakah batas yang dahulu datang dari orang tua telah berubah menjadi kesadaran dari dalam dirinya? Karena itu, jangan hanya rebut gawai dari tangannya; rebut kembali hubungan yang mungkin perlahan diambil layar. Duduklah di sampingnya. Dengarkan. Bermainlah. Berikan contoh bahwa manusia lebih penting daripada pemberitahuan yang baru masuk. Anak membutuhkan batas bukan agar dunianya sempit, tetapi agar jiwanya memiliki ruang untuk tumbuh.
Penutup Artikel