Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Sebuah barang tiba hari ini, tetapi sebagian dari gaji bulan depan diam-diam ikut dibuka dari bungkusnya. Kita menikmati aroma benda baru sementara masa depan menerima potongan yang belum terasa. Tombol “bayar nanti” membuat jarak antara ingin dan memiliki hampir lenyap; yang tertinggal hanyalah beberapa angka kecil di layar. Namun setiap kemudahan membawa pertanyaan yang jarang ikut dikirim bersama paket: apakah yang kita beli benar-benar meringankan hidup, atau hanya memindahkan gelisah ke tanggal berikutnya?
Pembiayaan digital bukan selalu musuh. Ia dapat menolong kebutuhan mendesak dan memperluas akses ketika digunakan dengan jernih. Yang patut diwaspadai adalah cara keinginan disamarkan menjadi kebutuhan, lalu dipercepat oleh desain yang membuat utang terasa tanpa berat. Data OJK pada 2026 menunjukkan pertumbuhan kuat pembiayaan buy now, pay later di Indonesia. Di balik angka itu ada jutaan keputusan rumah tangga: sebagian terencana, sebagian lahir pada malam yang sepi, ketika diskon terasa seperti kesempatan terakhir untuk menjadi cukup.
Nafs jarang berkata, “Aku sedang mencari pengakuan.” Ia berkata, “Kamu pantas mendapatkannya,” “semua orang sudah punya,” atau “bayarnya kecil.” Kita pun membeli bukan hanya benda, tetapi bayangan diri: lebih berhasil, lebih modern, lebih diterima. Ketika bayangan itu memudar, benda berikutnya kembali memanggil. Masalah terdalam bukan semata jumlah cicilan, melainkan kebiasaan menyerahkan ketenteraman kepada sesuatu yang harus terus dibeli. Keinginan tidak pernah lunas bila yang berutang sesungguhnya adalah harga diri.
Al-Ḥārith al-Muḥāsibī dalam al-Makāsib wa al-Wara‘ mengajak manusia memeriksa bukan hanya halal-haramnya perolehan, tetapi juga kebersihan pertimbangan yang menyertainya. Wara‘ bukan ketakutan berlebihan kepada dunia; ia adalah kewaspadaan agar sesuatu yang boleh tidak menyeret hati kepada kerusakan. Sebelum akad terjadi, seorang pencari jalan bertanya lebih dalam: dari mana kemampuan membayar datang, siapa yang terdampak bila keadaan berubah, dan apakah keputusan ini memperluas manfaat atau justru mempersempit kebebasan esok hari?
Sendhil Mullainathan dan Eldar Shafir melalui Scarcity menunjukkan bahwa tekanan kekurangan dapat menyita “ruang pikir”. Ketika tagihan menumpuk, perhatian terkunci pada kebutuhan terdekat sehingga keputusan jangka panjang menjadi semakin sulit. Inilah lingkaran yang kejam: cicilan yang semula dimaksudkan untuk meringankan dapat mengurangi kejernihan yang dibutuhkan untuk keluar darinya. Karena itu, nasihat finansial yang hanya berkata “lebih disiplin” sering gagal memahami beban kognitif dan rasa malu yang dialami orang dalam kesulitan.
Syeikh Aḥmad Ṣāḥib al-Wafā Tāj al-‘Ārifīn melalui Akhlaqul Karimah Berdasarkan Mudaawamatu Dzikrillah menempatkan ingatan kepada الله sebagai tenaga pembentuk akhlak. Dzikir menghadirkan sela di antara dorongan dan tindakan. Di sela itulah kita dapat membedakan kebutuhan, kenyamanan, dan pencitraan. Hati yang ingat tidak otomatis menjadi ahli keuangan, tetapi ia lebih sulit dibujuk oleh perasaan bahwa martabat dapat dicicil melalui barang. Kejernihan ruhani lalu membutuhkan kecakapan nyata: membaca biaya, risiko, denda, dan kemampuan bayar dengan jujur.
Sebelum menekan tombol pembelian, praktikkan jeda dua puluh empat jam untuk barang yang tidak mendesak. Tuliskan harga penuh, bukan hanya cicilan bulanan; tambahkan seluruh biaya; lalu bayangkan penghasilan berkurang selama dua bulan. Tanyakan tiga hal: apakah saya tetap memilihnya, kebutuhan siapa yang mungkin terdesak, dan emosi apa yang sedang ingin saya tenangkan? Jika utang sudah membebani, susun daftar tanpa menyalahkan diri, hentikan utang baru, bicarakan dengan keluarga yang terdampak, dan cari pendampingan tepercaya.
Adab finansial juga menuntut belas kasih sosial. Jangan menjadikan kesulitan utang sebagai bahan olok-olok, sebab orang dapat terjerat oleh sakit, kehilangan kerja, tanggungan keluarga, maupun keputusan yang keliru. Pada saat yang sama, kasih tidak berarti membiarkan kebiasaan merusak terus berjalan. Kita dapat membantu dengan mendengar tanpa mempermalukan, menyusun pilihan bersama, dan menolak gaya hidup yang membuat orang lain merasa harus membeli agar dihormati. Komunitas yang sehat tidak memamerkan konsumsi sebagai ukuran kemuliaan.
Kelak bungkus paket dibuang dan benda baru menjadi biasa. Yang tetap tinggal adalah ruang hidup yang kita miliki—atau kehilangan—karena keputusan hari ini. Rezeki bukan hanya apa yang masuk ke tangan, tetapi juga kemampuan menjaga hari esok dari tuntutan yang tidak perlu. Ketika keinginan datang, kita tidak harus memusuhinya; cukup mengajaknya duduk, menyebut namanya dengan jujur, lalu memutuskan siapa yang memimpin. Apa yang dibayar nanti sering kali bukan harga barang, melainkan kebebasan yang kita serahkan hari ini.
Penutup Artikel