Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Setiap Agustus, merah putih memenuhi jalan, halaman rumah, sekolah, kantor, dan ruang-ruang publik. Lagu kebangsaan kembali terdengar, upacara digelar, dan kata merdeka diucapkan dengan penuh kebanggaan. Namun, di tengah perayaan itu ada pertanyaan yang lebih sunyi: sudahkah kita benar-benar merdeka? Sebab seseorang dapat hidup di negeri yang bebas, tetapi jiwanya masih dijajah rasa takut, pujian, gengsi, dendam, dan kebutuhan untuk terus diakui.
Penjajahan batin memang tidak selalu terlihat. Tidak ada rantai pada kaki, tetapi kita takut berkata benar karena khawatir kehilangan kedudukan. Tidak ada penjaga di depan pintu, tetapi kita mengubah diri agar diterima banyak orang. Kita marah karena harga diri tersentuh, membeli karena ingin dipandang, dan diam karena takut berbeda. Bangsa dapat merayakan kemerdekaannya setiap tahun, sementara warganya masih menyerahkan keputusan hidup kepada pandangan orang lain.
Al-Ḥakīm al-Tirmidhī, dalam pembahasannya tentang nafs dan adab jiwa, membantu kita memahami bahwa musuh yang paling halus sering bekerja dari dalam. Nafs tidak selalu memerintahkan kejahatan besar; terkadang ia datang sebagai keinginan untuk dipuji, merasa paling benar, menang dalam setiap perdebatan, atau menguasai orang lain. Karena itu, tazkiyat al-nafs bukan proyek membenci diri, melainkan usaha membebaskan diri dari dorongan-dorongan yang diam-diam mengambil alih kemerdekaan kita.
Tradisi TQN menempatkan perjuangan melawan nafsu sebagai bagian inti perjalanan ruhani. Dalam Faḍā’il al-Syuhūr, Syeikh Muḥammad ‘Abd al-Ghaos Saefulloh Maslul menjelaskan mujāhadat al-nafs sebagai perjuangan menghadapi nafsu yang, bila dibiarkan, dapat menguasai manusia seperti musuh yang menyerang. Kitab itu juga menggambarkan perjalanan jiwa menuju nafs al-muṭma’innah: jiwa yang semakin terbebas dari sifat tercela dan bergerak menuju ketenteraman serta ketaatan. Kemerdekaan terbesar, dengan demikian, dimulai ketika manusia tidak lagi mudah diperintah oleh dirinya sendiri.
Namun, menaklukkan ego bukan berarti memusnahkan kepribadian. Muhammad Iqbal justru mengingatkan pentingnya pembentukan khudi: diri yang kuat, sadar, bertanggung jawab, dan mampu berdiri di hadapan kehidupan. Spiritualitas bukan membuat seseorang menjadi pasif atau kehilangan keberanian. Sebaliknya, semakin seseorang merdeka dari nafsunya, semakin ia mampu mengatakan benar tanpa membutuhkan tepuk tangan, bekerja tanpa haus pengakuan, dan mengabdi tanpa menjadikan dirinya pusat segala sesuatu.
Kemerdekaan batin karena itu dapat diuji dengan pertanyaan sederhana: seberapa mudah kita dibeli, ditakuti, dipuji, atau dibenci? Orang yang masih diperbudak pujian akan berubah ketika tidak lagi mendapatkannya. Orang yang diperbudak ketakutan akan meninggalkan kebenaran demi keselamatan dirinya. Orang yang diperbudak kebencian membiarkan lawannya menentukan suasana hatinya. Dzikir, sebagaimana ditekankan Syeikh Aḥmad Ṣāḥib al-Wafā Tāj al-‘Ārifīn dalam Miftāḥ al-Ṣudūr, mengembalikan hati kepada pusatnya: mengingat الله agar manusia tidak mudah dikuasai oleh sesuatu selain-Nya.
Hari ini, pilihlah satu “penjajah batin” yang paling sering menguasai diri. Mungkin rasa takut kehilangan jabatan. Mungkin dendam lama. Mungkin gengsi yang membuat kita hidup di luar kemampuan. Mungkin kebutuhan untuk selalu terlihat berhasil. Mungkin ketergantungan pada likes, pujian, dan validasi. Jangan memerangi semuanya sekaligus. Kenali satu, beri nama, lalu tanyakan: berapa banyak keputusan hidupku yang selama ini dibuat olehnya? Dari sana, kemerdekaan mulai mempunyai bentuk yang nyata.
Kemerdekaan spiritual tidak boleh berhenti menjadi ketenangan pribadi. Jiwa yang merdeka seharusnya melahirkan keberanian kewargaan: berani berkata benar ketika dusta menjadi nyaman, membela yang lemah ketika mayoritas memilih diam, dan mendahulukan kemaslahatan ketika kepentingan pribadi menawarkan keuntungan. Al-Qur’an mengingatkan bahwa jiwa memiliki kemungkinan kefasikan sekaligus ketakwaan, dan sungguh beruntung orang yang menyucikannya (QS. al-Syams [91]: 7–10). Bangsa yang sehat membutuhkan warga yang tidak hanya bebas memilih, tetapi juga mampu menguasai dirinya ketika memilih.
Maka setiap kali merah putih berkibar, barangkali kita perlu merayakan kemerdekaan dengan cara yang lebih dalam: membebaskan satu ketakutan, melepaskan satu dendam, menolak satu ketidakjujuran, atau mengalahkan satu kerakusan dalam diri. Sebab kemerdekaan politik memberi kita ruang untuk hidup bebas, tetapi kemerdekaan batin menentukan untuk apa kebebasan itu digunakan. Indonesia tidak hanya membutuhkan warga yang mencintai negerinya, tetapi manusia yang cukup merdeka untuk mengabdi tanpa diperbudak kepentingannya sendiri. Bangsa merdeka lahir dari manusia yang tidak lagi diperintah oleh ketakutannya.
Penutup Artikel