Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Di sudut piring tertinggal nasi yang tidak lagi kita pandang sebagai makanan. Beberapa menit sebelumnya ia dipilih, disendok, mungkin difoto; kini tangannya berhenti di tepi tempat sampah. Sebutir nasi tampak terlalu kecil untuk memikul kisah. Padahal di dalamnya ada tanah, air, benih, panas matahari, punggung petani, perjalanan kendaraan, tangan yang memasak, dan rezeki yang memungkinkan kita duduk. Piring yang nyaris kosong sebenarnya masih penuh dengan jejak yang mudah dilupakan.
Limbah makanan bukan persoalan dapur semata. Food Waste Index Report 2024 dari UNEP memperkirakan dunia membuang 1,05 miliar ton makanan pada 2022, dan rumah tangga menjadi penyumbang terbesar. Angka sebesar itu sulit dirasakan, tetapi bentuknya akrab: sayur membusuk karena tertutup di kulkas, sajian berlebih demi terlihat ramah, buah ditolak karena bentuknya tidak sempurna, dan makanan prasmanan diambil melebihi selera. Kita hidup dekat dengan kelaparan, namun kelimpahan sering kehilangan ingatan. Setiap makanan yang terbuang juga membawa jejak air, energi, lahan, tenaga, dan emisi yang tidak dapat dikembalikan hanya dengan penyesalan.
Pemborosan bermula bukan hanya dari perencanaan yang buruk, tetapi dari cara nafs memandang cukup. Kita takut hidangan sedikit akan membuat kita tampak kurang dermawan. Kita membeli karena potongan harga, bukan karena kebutuhan. Kita menyukai pilihan berlimpah sebab meja yang penuh memberi ilusi aman. Lalu, ketika makanan tersisa, rasa bersalah dihindari dengan membuangnya cepat-cepat. Yang hilang bukan cuma bahan pangan, melainkan kemampuan menyaksikan nikmat sebagai amanah yang mempunyai hubungan dengan manusia dan bumi.
Al-Rāghib al-Iṣfahānī dalam al-Dharī‘ah ilā Makārim al-Sharī‘ah menempatkan pengelolaan dorongan sebagai bagian dari pembentukan kemuliaan akhlak. Keinginan makan tidak dimatikan, tetapi ditata agar kesenangan tidak merusak ukuran. Dalam pandangan ini, syukr bukan ucapan setelah kenyang; ia adalah penggunaan nikmat sesuai tujuan baiknya. Makanan dihormati ketika diambil secukupnya, dibagikan dengan layak, dan tidak dibiarkan rusak hanya karena kita enggan merencanakan.
Tristram Stuart melalui Waste: Uncovering the Global Food Scandal menelusuri bagaimana pemborosan terjadi dari produksi hingga meja makan. Ia membantu kita melihat bahwa pilihan rumah tangga terhubung dengan standar penampilan, rantai pasok, dan kebiasaan industri. Artinya, mengurangi sisa tidak cukup dengan menegur seseorang agar menghabiskan piring. Kita perlu memperbaiki cara membeli, menyimpan, menyajikan, menjual, dan mendistribusikan. Belas kasih kepada orang lapar harus bertemu dengan kecakapan mengelola sistem pangan.
Dalam laku sufistik, makan dapat menjadi latihan hadir. Sebelum suapan pertama, dzikir mengembalikan hati kepada Pemberi; sesudahnya, syukur menggerakkan nikmat menuju tanggung jawab. Kesadaran itu tidak menjadikan dapur ruang yang muram. Justru rasa menjadi lebih hidup karena makanan tidak ditelan sambil lalu. Kita belajar bahwa menghabiskan bukan berarti memaksa tubuh melampaui kenyang, dan berbagi bukan berarti mengirim makanan yang sudah tidak layak. Adab menjaga sekaligus rezeki, kesehatan, dan martabat penerima.
Selama sepekan, sediakan wadah bening khusus untuk mencatat sisa makanan yang sebenarnya masih dapat dimakan. Bukan untuk mempermalukan keluarga, melainkan untuk melihat pola. Susun menu dari bahan yang sudah ada, gunakan prinsip “yang masuk lebih dahulu keluar lebih dahulu”, ambil porsi kecil lalu tambah bila perlu, dan sediakan satu malam untuk mengolah sisa menjadi hidangan baru. Bedakan tanggal “baik digunakan sebelum” dari tanda nyata kerusakan, sambil tetap menjaga keamanan pangan.
Di luar rumah, kita dapat meminta porsi yang sesuai, membawa wadah, mendukung penjualan bahan yang bentuknya tidak sempurna, serta mendorong acara komunitas menghitung tamu dengan wajar. Restoran, sekolah, pesantren, kantor, dan hotel dapat menimbang limbahnya agar keputusan lahir dari data. Apa yang diukur lebih mudah diperbaiki bersama. Makanan berlebih yang masih aman perlu disalurkan melalui tata kelola yang menjaga mutu dan kehormatan. Yang tidak dapat dimakan dapat kembali ke tanah melalui kompos, bukan menambah timbunan yang menghasilkan emisi.
Ketika tangan kembali berada di atas tempat sampah, berhentilah sekejap. Jangan melihat sebutir nasi sebagai benda kecil yang tak berarti; lihatlah jaringan kehidupan yang mengantarkannya. Mungkin kita tetap harus membuang sesuatu karena sudah tidak aman, tetapi keputusan itu kini lahir dari perhatian, bukan kelalaian. Perhatian kecil, bila diulang, menjadi budaya rumah. Piring yang mengingat mengajarkan bahwa syukur mempunyai ukuran, jadwal, wadah, dan tindakan. Nikmat dihormati bukan ketika banyak disebut, melainkan ketika sedikit pun tidak diperlakukan sia-sia.
Penutup Artikel