Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Sebelum penghuni rumah lain bangun, seseorang sudah mengingat obat, menanak nasi, mencari seragam, menjawab pesan sekolah, dan memastikan orang tua tidak berjalan sendiri ke kamar mandi. Pekerjaannya tidak selalu tampak karena sebagian besar berbentuk kewaspadaan: telinga yang tetap siaga ketika anak tidur, pikiran yang menyimpan jadwal semua orang, dan tubuh yang jarang benar-benar bebas. Rumah terlihat berdiri oleh tembok, padahal sering kali ia ditopang oleh perhatian yang tak tercatat.
Kerja perawatan memungkinkan kehidupan lain berlangsung. Seseorang dapat pergi ke kantor karena ada yang menjaga anak; pasien pulih karena ada yang menyiapkan makanan; lansia bertahan di rumah karena ada yang mengawasi. Namun pekerjaan ini kerap disebut “bantuan”, “naluri”, atau “memang tugasnya”, sehingga waktu dan keahliannya menghilang dari pengakuan. Laporan UN Women tentang penggunaan waktu pada 2026 kembali menunjukkan bahwa kemiskinan waktu mempunyai wajah gender dan berkelindan dengan pendidikan, pekerjaan, usia, serta susunan keluarga. Yang tak dihitung tetap dapat menghabiskan seluruh hari seseorang.
Cinta dapat membuat orang rela merawat, tetapi cinta juga dapat dieksploitasi oleh kebisuan. Kita menganggap pengorbanan tanpa batas sebagai bukti kasih paling murni, lalu merasa bersalah ketika lelah atau meminta giliran. Nafs keluarga tidak selalu berwujud pertengkaran; ia dapat hadir sebagai kenyamanan sebagian anggota karena ada satu orang yang terus menambal semuanya. Ketidakadilan menjadi sulit terlihat ketika dibungkus pujian: “Hanya kamu yang paling telaten,” yang sebenarnya berarti “kami tidak perlu belajar.”
Abū ‘Abd al-Raḥmān al-Sulamī dalam Dhikr al-Niswah al-Muta‘abbidāt al-Ṣūfiyyāt merekam perempuan-perempuan sufi sebagai subjek ruhani yang mempunyai pengetahuan, latihan, dan suara. Catatan itu penting karena mengingatkan bahwa orang yang merawat bukan sekadar fungsi bagi kehidupan orang lain. Ia mempunyai perjalanan batin, kebutuhan belajar, waktu istirahat, dan panggilan hidupnya sendiri. Khidmah kehilangan kemuliaan ketika pelayan dibuat tak terlihat; pelayanan yang suci tidak mensyaratkan seseorang lenyap sebagai manusia.
Joan C. Tronto dalam Caring Democracy menjelaskan perawatan sebagai kegiatan sosial dan politik, bukan urusan privat rumah tangga belaka. Siapa yang merawat, siapa yang menerima, siapa yang membayar, dan siapa yang dapat melepaskan diri adalah pertanyaan keadilan. Pandangan ini membantu kita keluar dari romantisasi. Kasih tetap penting, tetapi kasih membutuhkan pembagian waktu, layanan publik, lingkungan kerja yang memahami tanggungan, dan penghargaan kepada pekerja perawatan berbayar. Rumah tidak boleh menopang masyarakat dengan merobohkan satu orang di dalamnya.
Tanbih mengajarkan penghormatan kepada sesama dan keselarasan hubungan dengan berbagai lapisan manusia. Dibaca dari ruang keluarga, pesan itu menuntut agar dzikir menjelma menjadi kepekaan terhadap tangan yang paling sibuk dan suara yang paling jarang ditanya. Hati yang menyebut الله tetapi membiarkan satu anggota keluarga menanggung seluruh perawatan belum selesai mendidik dirinya. Khidmah bukan identitas tetap milik perempuan, anak tertua, atau orang yang dianggap paling sabar; ia adalah amanah bersama yang perlu dibagi menurut kemampuan.
Buatlah “peta penopang rumah” selama satu minggu. Catat bukan hanya memasak dan membersihkan, tetapi juga mengingat janji, menenangkan emosi, mengawasi, mengantar, dan berjaga. Setelah itu duduk bersama tanpa mencari terdakwa. Tanyakan tugas mana yang dapat diputar, keterampilan apa yang perlu dipelajari anggota lain, kapan setiap perawat memperoleh waktu bebas yang sungguh bebas, dan dukungan luar apa yang dibutuhkan. Jangan menunggu ia jatuh sakit untuk mengakui bahwa bebannya terlalu berat.
Di tempat kerja dan komunitas, kita dapat memperluas lingkaran tanggung jawab: jadwal yang lentur, cuti perawatan, ruang laktasi, akses penitipan, dukungan disabilitas, serta upah layak bagi pengasuh dan pekerja rumah tangga. Menanyakan keadaan perawat sama pentingnya dengan menanyakan pasien. Bantuan terbaik kadang bukan nasihat agar lebih ikhlas, melainkan menggantikan satu jam jaga, mengirim makanan yang siap disantap, atau membayar tenaga profesional. Doa yang baik perlu sesekali memakai tangan dan kalender.
Besok pagi, rumah mungkin kembali tampak bekerja dengan sendirinya. Pandang lebih teliti: ada seseorang yang membuat air tersedia, jadwal bertemu, tubuh aman, dan suasana dapat ditinggali. Ucapkan terima kasih, tetapi jangan berhenti pada kata. Ambil sebagian bebannya, pelajari pekerjaannya, dan lindungi waktu hidupnya. Sebuah rumah menjadi teduh bukan karena satu orang sanggup memikul semuanya, melainkan karena kasih belajar mempunyai pembagian. Perawatan menjadi ibadah ketika yang dirawat bertumbuh dan yang merawat tidak dibuat menghilang.
Penutup Artikel