Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Setelah seseorang wafat, teleponnya masih menerima ucapan ulang tahun. Foto lama muncul sebagai “kenangan”, akun tetap menyarankan pertemanan, dan pesan suaranya dapat diputar kapan saja. Kehadiran biologis telah berakhir, tetapi jejak digital terus mengetuk keluarga dari tempat yang tidak mengenal pemakaman. Kini teknologi bahkan mampu meniru cara bicara orang yang meninggal. Di antara rindu dan algoritma, kita menghadapi pertanyaan baru: siapakah yang berhak menentukan nasib bayangan digital setelah pemiliknya tidak lagi dapat menjawab?
Dahulu warisan terutama dibayangkan sebagai rumah, surat, buku, atau benda yang dapat disentuh. Hari ini ia juga berupa surel, percakapan, foto awan, langganan, dompet digital, data kesehatan, akun usaha, dan rekaman wajah. Semuanya tersebar di berbagai layanan dengan aturan berbeda. Keluarga mungkin membutuhkan akses untuk menutup urusan, tetapi privasi almarhum dan orang-orang yang pernah berbicara dengannya juga tetap mempunyai nilai. Duka bertemu kata sandi, persetujuan, dan model bisnis yang memperoleh manfaat dari data yang menetap. Tanpa petunjuk, keluarga dipaksa menebak kehendak seseorang tepat ketika pikiran mereka sedang diselimuti kehilangan.
Nafs sulit menerima ketiadaan. Bila teknologi menawarkan simulasi percakapan, kita mungkin ingin memperpanjang rasa hadir tanpa menanyakan apakah itu membantu berduka atau menahan kita di ambang. Sebaliknya, ada pula dorongan menghapus semua jejak secepat mungkin agar rasa sakit tidak muncul. Kedua reaksi lahir dari kasih yang sedang kebingungan. Tasawuf tidak mengutuk rindu, tetapi mengajaknya membedakan antara mengenang manusia dan menuntut tiruan untuk terus memenuhi kebutuhan kita.
Al-Ḥārith al-Muḥāsibī dalam Kitāb al-Waṣāyā menjadikan ingatan akan akhir sebagai alat menjernihkan cara hidup hari ini. Kematian bukan ancaman untuk mematikan kegembiraan, melainkan cermin yang menata amanah sebelum kita pergi. Di zaman digital, muḥāsabah mencakup pertanyaan yang tidak dikenal generasi terdahulu: jejak apa yang kita tinggalkan, siapa yang memegang kuncinya, percakapan mana yang harus tetap tertutup, dan apakah wajah serta suara kita boleh digunakan untuk membangun simulasi setelah wafat?
Carl Öhman melalui The Afterlife of Data menunjukkan bahwa sisa digital orang mati bukan hanya perkara pribadi; ia menjadi arsip sosial dalam skala yang sangat besar dan dikelola oleh perusahaan. Data orang meninggal dapat menjadi bahan kenangan, sejarah, penelitian, maupun komoditas. Karena itu, pilihan “simpan atau hapus” terlalu sederhana. Kita memerlukan tata kelola yang mempertimbangkan kehendak pemilik, kebutuhan keluarga, kepentingan publik, serta hak orang lain yang ikut terekam di dalam jejak tersebut.
Dalam tradisi sufistik, dhikr al-mawt—mengingat kematian—tidak mengajak manusia mencintai ketiadaan. Ia mengajarkan hadir sepenuhnya karena waktu terbatas. Dzikrullah membebaskan kenangan dari tuntutan memiliki: orang yang kita cintai dikembalikan kepada الله, sementara kasihnya diteruskan melalui doa dan amal. Rekaman dapat menolong ingatan, tetapi bukan pengganti ruh. Ketika batas itu dijaga, teknologi menjadi wadah kenangan tanpa mengambil alih proses menerima kenyataan.
Susun wasiat digital sederhana. Daftar akun penting, pilih orang tepercaya, aktifkan fitur kontak pewaris bila tersedia, jelaskan mana yang ingin dihapus atau dipertahankan, dan simpan petunjuk akses melalui pengelola kata sandi yang aman—bukan di pesan terbuka. Nyatakan secara khusus kehendak tentang penggunaan foto, suara, dan data untuk sistem AI. Tinjau setahun sekali. Langkah ini mungkin terasa canggung, tetapi ia mencegah keluarga mengambil keputusan rumit ketika sedang berduka.
Jika kita mengelola akun orang yang wafat, jangan tergesa menjadikan seluruh hidupnya konsumsi publik. Mintalah persetujuan keluarga dan hormati orang lain yang ada dalam pesan atau gambar. Jangan membuat simulasi digital tanpa kehendak yang jelas hanya karena teknologinya tersedia. Kesanggupan teknis tidak pernah otomatis menjadi izin moral. Anak-anak memerlukan perlindungan khusus karena jejak keluarganya dapat membentuk identitas mereka kelak. Mengenang dengan adab berarti menerima bahwa sebagian hal memang pantas tinggal sebagai rahasia antara manusia dan Tuhannya.
Suatu hari layar kita juga akan menyala tanpa tangan yang biasa menyentuhnya. Yang paling penting bukan berapa banyak data bertahan, melainkan apakah jejak itu meninggalkan kebaikan tanpa memperpanjang luka dan pelanggaran. Kita dapat menata warisan digital sekarang sebagai bagian dari kasih kepada mereka yang akan membereskannya nanti. Kejelasan hari ini dapat menjadi kelembutan bagi duka esok. Awan penyimpanan boleh menyimpan kenangan, tetapi hati harus tetap belajar melepaskan. Jejak yang baik tidak memaksa kita tetap hadir; ia membantu kasih berjalan setelah kita tiada.
Penutup Artikel