Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Hujan turun terlalu deras di satu tempat, sementara tanah di tempat lain retak menunggu air. Kita menggulir gambar banjir, kebakaran, panas, dan gagal panen hingga dada sesak, lalu menutup layar dengan rasa bersalah karena hidup kembali seperti biasa. Ada kecemasan yang lahir bukan karena kita membenci dunia, melainkan karena sangat mencintainya. Kita takut rumah bersama ini berubah lebih cepat daripada kemampuan kita memperbaiki. Namun kasih yang terus-menerus diterpa kabar buruk dapat kelelahan sebelum sempat bekerja.
Kecemasan iklim bukan gangguan imajiner. Ia dapat muncul sebagai duka, marah, sulit tidur, rasa bersalah, atau ketakutan tentang masa depan anak. Sebagian orang mengalaminya dari berita; sebagian lain dari rumah yang benar-benar terendam, hasil tani yang berubah, udara tercemar, atau pekerjaan yang hilang. Karena dampaknya tidak terbagi merata, kita perlu berhati-hati menjadikan kecemasan kelompok berprivilegi sebagai pusat cerita sementara mereka yang paling terdampak hanya menjadi gambar latar. Keadilan iklim dimulai dengan mendengar pengalaman yang paling dekat kepada kerusakan.
Nafs menghadapi ancaman besar melalui dua jalan yang sama-sama membuat lumpuh. Pertama, penyangkalan: masalah dianggap terlalu jauh agar gaya hidup tidak perlu berubah. Kedua, kemurnian berlebihan: kita menuntut diri tanpa cela, lalu menyerah ketika setiap pilihan ternyata memiliki jejak. Keduanya menjaga ego tetap di pusat—sebagai orang yang tidak bersalah atau sebagai penyelamat sempurna. Bumi tidak membutuhkan citra kesucian kita. Ia membutuhkan tindakan yang tekun, kolektif, dan cukup rendah hati untuk terus belajar.
Aḥmad Zarrūq dalam Qawā‘id al-Taṣawwuf menekankan kaidah, ukuran, dan keseimbangan agar semangat ruhani tidak lepas dari kenyataan. Prinsip itu berguna ketika menghadapi krisis ekologis: rasa takut perlu diakui, tetapi tidak dibiarkan menjadi satu-satunya penuntun; ikhtiar perlu dilakukan, tetapi tidak diperlakukan seolah satu orang menguasai seluruh hasil. Tawakkul bukan alasan pasif. Ia membebaskan kita dari khayalan kendali mutlak agar tenaga dapat diarahkan kepada amanah yang benar-benar berada dalam jangkauan.
Britt Wray melalui Generation Dread membahas kecemasan iklim sebagai respons yang berhubungan dengan kasih, kehilangan, keadilan, dan kebutuhan akan komunitas. Emosi ini tidak selalu harus dihapus; ia dapat menjadi sinyal nilai yang sedang terancam. Tetapi sinyal memerlukan wadah. Tanpa hubungan dan tindakan, kecemasan berputar menjadi ketakberdayaan. Dengan dukungan, ia dapat berubah menjadi keberanian yang lebih realistis: bukan optimisme kosong bahwa semuanya pasti baik, melainkan harapan yang memilih bekerja meski hasil belum terjamin.
Dalam tasawuf, alam bukan latar mati bagi drama manusia. Ia adalah ayat yang menuntun pandangan kepada الله dan amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Dzikir melatih kita hadir pada pohon di halaman, suhu udara, air yang dipakai, serta tubuh-tubuh yang menanggung pencemaran. Kedekatan itu mencegah isu bumi menjadi angka abstrak. Ketika hati mengingat Pencipta, cinta kepada ciptaan tidak berhenti sebagai perasaan indah; ia mencari bentuk dalam penghematan, perlindungan, keadilan, dan pemulihan.
Buatlah dua lingkaran di atas kertas: “yang dapat saya lakukan sendiri” dan “yang harus dilakukan bersama”. Pada lingkaran pertama, pilih satu kebiasaan terukur selama sebulan—mengurangi perjalanan tertentu, mencegah makanan terbuang, menghemat listrik, atau memulihkan tanah. Pada lingkaran kedua, bergabunglah dengan satu upaya kolektif: kelompok sungai, kebun warga, advokasi udara bersih, kesiapsiagaan bencana, atau kebijakan tempat kerja. Batasi konsumsi berita pada waktu tertentu agar pengetahuan memberi arah, bukan menghabiskan daya.
Jaga pula manusia yang menjaga bumi. Aktivis, petugas bencana, petani, peneliti, dan warga terdampak membutuhkan istirahat, penghasilan, keamanan, dan teman berbicara. Jangan menuntut mereka menjadi simbol harapan sepanjang waktu. Jika kecemasan mengganggu tidur, fungsi sehari-hari, atau menimbulkan keputusasaan berat, mencari bantuan kesehatan mental adalah bagian dari merawat amanah. Ketangguhan ekologis tidak dibangun oleh jiwa-jiwa yang dipaksa patah dalam kesunyian.
Di antara tanah retak dan air yang meluap, seseorang menanam pohon muda bersama tetangganya. Pohon itu tidak menghentikan seluruh krisis hari ini, tetapi tindakan tersebut menolak dua kebohongan: bahwa kita tidak berdaya dan bahwa kita harus berdaya sendirian. Kecemasan boleh ikut hadir, asal tidak duduk di kursi pengemudi. Kesetiaan pada langkah kecil menjaga hati dari putus asa yang menyamar sebagai realisme. Kita bekerja karena bumi berharga, bukan karena kemenangan sudah dijanjikan kepada ego. Harapan bukan keyakinan bahwa bumi akan pulih sendiri; ia adalah kesediaan kita ikut merawat tanpa meminta kepastian.
End of Article