Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Setiap pagi kita melewati orang yang sama di lift, gerbang, warung, atau halte. Kita mengenali jaketnya, jam berangkatnya, bahkan cara ia menunduk menatap telepon, tetapi tidak mengetahui namanya. Kedekatan geografis tidak otomatis melahirkan perjumpaan. Ribuan tubuh bergerak berimpitan di kota, sementara banyak hati pulang tanpa satu percakapan yang sungguh menyentuh. Barangkali kesepian perkotaan tidak selalu terdengar sebagai tangis; kadang ia hanya berupa dua orang yang berulang kali berdiri bersebelahan tanpa pernah saling menyapa.
WHO pada 2025 memperkirakan sekitar satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian dan mendorong koneksi sosial diperlakukan sebagai persoalan kesehatan masyarakat. Teknologi dapat mempertemukan, tetapi kualitas hubungan juga ditentukan oleh ruang tempat manusia dapat hadir tanpa harus membeli sesuatu. Ketika bangku hilang, trotoar tak nyaman, perpustakaan sepi, taman dipagari, dan perjalanan menghabiskan waktu, niat berhubungan menghadapi arsitektur yang memisahkan. Kesepian bukan sekadar kegagalan seseorang menjadi ramah. Ia dapat diproduksi oleh kota yang menyediakan banyak tempat lewat, tetapi terlalu sedikit tempat tinggal sejenak dan saling melihat.
Namun kota juga hidup di dalam cara kita memandang. Nafs ingin bergerak tanpa gangguan: tetangga dianggap potensi repot, orang asing dianggap ancaman, petugas dianggap fungsi. Kita menjaga privasi sampai tidak ada lagi pintu bagi pertolongan. Kemandirian lalu berubah menjadi keyakinan bahwa orang baik tidak membutuhkan siapa pun. Padahal banyak krisis—sakit mendadak, banjir, kehilangan kerja, usia lanjut—mengungkap bahwa keselamatan sering bergantung pada seseorang yang cukup dekat untuk mengetuk.
Abū Madyan dalam Bidāyat al-Murīd menempatkan ṣuḥbah, kebersamaan yang mendidik, sebagai bagian penting perjalanan. Sahabat bukan hanya teman akrab yang selalu sependapat, melainkan manusia yang keberadaannya menolong kita melihat diri dan belajar adab. Dalam kehidupan kota, semangat ṣuḥbah dapat dimulai lebih sederhana: mengenali nama penjaga, memberi ruang bagi anak bermain, mengetahui siapa yang hidup sendiri, dan membiarkan perbedaan usia maupun pekerjaan bertemu dalam kegiatan bersama.
Eric Klinenberg melalui Palaces for the People menyebut perpustakaan, taman, sekolah, tempat ibadah, dan pusat komunitas sebagai infrastruktur sosial. Ruang-ruang itu memungkinkan kepercayaan tumbuh melalui pertemuan yang berulang, rendah biaya, dan tidak dipaksa. Sebuah bangku teduh mungkin tampak remeh dibanding gedung tinggi, tetapi di sanalah orang tua berkenalan, anak terlihat oleh banyak mata yang peduli, dan kabar tentang tetangga sakit berpindah. Kota yang tangguh dibangun bukan hanya oleh beton, melainkan oleh kesempatan untuk saling mengenal.
Tradisi majelis dalam tasawuf mengingatkan bahwa hati juga dididik secara kolektif. Dzikir bersama bukan kerumunan anonim; ia melatih irama untuk hadir, mendengar, dan mengakui bahwa perjalanan tidak ditempuh sendirian. Nilai ini perlu dibawa keluar dari ruang ibadah. Keakraban yang hanya hangat kepada kelompok sendiri belum menjadi rahmat sosial. Kota membutuhkan majelis-majelis kecil yang terbuka: kerja bakti, dapur bersama, kelas warga, taman baca, dan percakapan lintas generasi.
Mulailah dengan radius seratus langkah dari pintu rumah. Dalam tujuh hari, pelajari tiga nama yang selama ini hanya menjadi wajah lewat. Sapa tanpa memaksa kedekatan, letakkan telepon saat berada di lift, dan luangkan sepuluh menit di ruang bersama. Cari satu kebutuhan sederhana yang dapat dikerjakan bersama, misalnya penerangan lorong, tanaman, jadwal sampah, atau kunjungan kepada warga sakit. Koneksi tumbuh dari pengulangan kecil, bukan dari satu acara besar yang segera terlupakan.
Sapaan juga memerlukan batas dan kepekaan. Tidak semua orang aman menerima pertanyaan pribadi; penyintas kekerasan, pendatang, atau kelompok yang distigma mungkin mempunyai alasan menjaga jarak. Keramahan bukan hak untuk memasuki hidup orang lain. Kita menawarkan kehadiran tanpa menuntut akses, menjaga data warga, dan memastikan ruang bersama dapat dipakai anak, lansia, perempuan, serta penyandang disabilitas. Kepercayaan tidak tumbuh karena dipaksa. Kedekatan yang beradab membuat orang lebih aman menjadi dirinya, bukan lebih mudah diawasi.
Besok kita mungkin kembali bertemu di tempat yang sama. Lift tetap sempit, lalu lintas tetap padat, dan pekerjaan tetap menunggu. Tetapi sebuah nama yang kini kita ketahui dapat mengubah lorong menjadi lingkungan. Sapaan tidak menyelesaikan seluruh struktur kesepian, namun ia membuka celah tempat kepercayaan mulai bernapas. Kota bukan hanya alamat yang dihuni bersamaan; ia menjadi rumah ketika hidup seseorang cukup berarti untuk diperhatikan. Kota mulai mempunyai jiwa ketika wajah yang berpapasan tidak lagi kita perlakukan sebagai latar.
End of Article