Penelitian ini mengeksplorasi peran ajaran sufistik Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) melalui Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) Suryalaya sebagai bentuk spiritualitas transformasional dalam menghadapi kolonialisme dan membangun kesadaran nasional. Dengan pendekatan kualitatif historis-hermeneutik, studi ini menelaah teks Tanbih, praktik tazkiyatun nafs, dan struktur sosial komunitas pesantren sebagai arena perlawanan kultural yang damai namun strategis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai sufistik seperti ikhlas, khidmah, sabar, dan amanah tidak hanya membentuk individu saleh, tetapi juga komunitas yang berdaya, mandiri, dan memiliki kesadaran kebangsaan yang berakar pada tauhid. Nasionalisme yang ditawarkan Abah Sepuh menolak sekularisme dan ekstremisme, dan justru menyatukan cinta tanah air dengan pengabdian kepada Tuhan. Ajarannya hidup sebagai living text dalam praktik sosial, ekonomi spiritual, dan memori kolektif, menjadikan sufisme sebagai kekuatan etis dan sosial yang relevan lintas zaman.
End of Article