18 Juli 2026 | Fajar Kesadaran
Oleh: Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Bising terbesar bukan selalu suara kendaraan, percakapan orang, atau dering telepon yang datang bertubi-tubi. Ada kebisingan yang lebih dekat sekaligus lebih sulit dihentikan: pikiran yang terus berlari, menyusun kemungkinan, mengulang penyesalan, dan mencemaskan sesuatu yang bahkan belum terjadi. Tubuh boleh berada di rumah, tetapi pikiran masih berkeliaran di banyak tempat. Manusia hadir secara fisik, namun belum benar-benar pulang.
Pagi ini mungkin dimulai seperti pagi-pagi sebelumnya. Tangan meraih telepon sebelum mata sepenuhnya terbuka. Pesan dibaca, berita dipindai, jadwal diperiksa, dan kehidupan orang lain mulai memasuki kesadaran sebelum kita sempat menyapa kehidupan sendiri. Dalam beberapa menit, hati telah penuh oleh berbagai urusan. Kita belum bangkit dari tempat tidur, tetapi jiwa sudah kelelahan menempuh perjalanan yang tidak dipilihnya.
Ilustrasi: Pulang dari Bising
Kebisingan batin sering lahir dari perkara yang belum selesai. Ada perkataan yang ingin dibalas, pengakuan yang belum diperoleh, keputusan yang terus diragukan, dan masa depan yang ingin dipastikan. Semuanya berkumpul dalam pikiran seperti tamu yang datang tanpa mengenal waktu pulang. Kita menyebutnya tanggung jawab, padahal sebagian darinya hanyalah keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu.
Zaman ini memuji manusia yang selalu siap merespons. Pesan harus segera dijawab, kesempatan harus cepat diambil, dan keputusan tidak boleh terlambat. Kecepatan kemudian dianggap sebagai tanda kesungguhan. Namun tidak semua yang cepat lahir dari kejernihan. Banyak keputusan justru muncul dari kepanikan karena kita takut tertinggal, takut dilupakan, atau takut kehidupan berlangsung tanpa persetujuan kita.
Ibn ʿAṭā’illāh dalam al-Ḥikam al-ʿAṭā’iyyah mengingatkan manusia agar tidak menyiksa dirinya dengan keinginan mengatur secara mutlak sesuatu yang berada di luar kekuasaannya. Pesan ini bukan larangan untuk merencanakan kehidupan. Ia merupakan peringatan agar ikhtiar tidak berubah menjadi ilusi bahwa semua hasil harus tunduk pada kehendak kita. Ada wilayah usaha manusia, tetapi ada pula wilayah ketentuan الله yang tidak dapat ditembus oleh kecemasan.
Perencanaan yang sehat membuat langkah menjadi terarah. Sebaliknya, keinginan menguasai hasil membuat pikiran terus berjaga bahkan ketika tidak ada lagi yang dapat dikerjakan. Kita mengulang percakapan yang telah berlalu dan mengantisipasi bencana yang belum datang. Jiwa kehilangan tenaga bukan karena beratnya kenyataan, melainkan karena memikul berbagai kemungkinan sebagai seolah-olah semuanya telah terjadi.
Pulang berarti mengembalikan kesadaran kepada pusatnya. Kita berhenti sejenak dari suara dunia agar dapat mendengar apa yang sesungguhnya sedang berlangsung di dalam diri. Apakah kita sedang bekerja karena amanah, atau karena takut dinilai gagal? Apakah kita sedang mengejar tujuan yang bermakna, atau hanya melarikan diri dari rasa tidak berharga? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat dijawab oleh pikiran yang terus berisik.
Sebelum memulai kegiatan hari ini, duduklah selama beberapa menit tanpa membuka layar. Tarik napas perlahan, lalu sadari bahwa tidak semua urusan harus diselesaikan pagi ini. Sebut nama الله dengan tenang. Serahkan kembali perkara yang tidak berada dalam kendali kita, kemudian pilih satu amanah yang benar-benar perlu dikerjakan. Kepulangan batin dimulai ketika perhatian tidak lagi tercerai-berai oleh semua hal sekaligus.
Ketenangan bukan keadaan ketika dunia berhenti menuntut kita. Ketenangan lahir ketika hati mengetahui mana yang harus dikerjakan, mana yang harus ditinggalkan, dan mana yang harus diserahkan. Kita tidak perlu menunggu kehidupan menjadi sunyi untuk menemukan kedamaian. Kita hanya perlu berhenti membawa seluruh dunia masuk ke dalam kepala.
Hikmah Hari Ini: Jiwa mulai pulang ketika ia berhenti memikul sesuatu yang tidak pernah dipercayakan kepadanya.
Rujukan Utama: Ibn ʿAṭā’illāh al-Sakandarī, al-Ḥikam al-ʿAṭā’iyyah.
Penulis: Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Waktu terbit: Sabtu, 18 Juli 2026 08:03 WIB
Penutup Artikel
18 Juli 2026 | Fajar Kesadaran
Oleh: Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Bising terbesar bukan selalu suara kendaraan, percakapan orang, atau dering telepon yang datang bertubi-tubi. Ada kebisingan yang lebih dekat sekaligus lebih sulit dihentikan: pikiran yang terus berlari, menyusun kemungkinan, mengulang penyesalan, dan mencemaskan sesuatu yang bahkan belum terjadi. Tubuh boleh berada di rumah, tetapi pikiran masih berkeliaran di banyak tempat. Manusia hadir secara fisik, namun belum benar-benar pulang.
Pagi ini mungkin dimulai seperti pagi-pagi sebelumnya. Tangan meraih telepon sebelum mata sepenuhnya terbuka. Pesan dibaca, berita dipindai, jadwal diperiksa, dan kehidupan orang lain mulai memasuki kesadaran sebelum kita sempat menyapa kehidupan sendiri. Dalam beberapa menit, hati telah penuh oleh berbagai urusan. Kita belum bangkit dari tempat tidur, tetapi jiwa sudah kelelahan menempuh perjalanan yang tidak dipilihnya.
Ilustrasi: Pulang dari Bising
Kebisingan batin sering lahir dari perkara yang belum selesai. Ada perkataan yang ingin dibalas, pengakuan yang belum diperoleh, keputusan yang terus diragukan, dan masa depan yang ingin dipastikan. Semuanya berkumpul dalam pikiran seperti tamu yang datang tanpa mengenal waktu pulang. Kita menyebutnya tanggung jawab, padahal sebagian darinya hanyalah keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu.
Zaman ini memuji manusia yang selalu siap merespons. Pesan harus segera dijawab, kesempatan harus cepat diambil, dan keputusan tidak boleh terlambat. Kecepatan kemudian dianggap sebagai tanda kesungguhan. Namun tidak semua yang cepat lahir dari kejernihan. Banyak keputusan justru muncul dari kepanikan karena kita takut tertinggal, takut dilupakan, atau takut kehidupan berlangsung tanpa persetujuan kita.
Ibn ʿAṭā’illāh dalam al-Ḥikam al-ʿAṭā’iyyah mengingatkan manusia agar tidak menyiksa dirinya dengan keinginan mengatur secara mutlak sesuatu yang berada di luar kekuasaannya. Pesan ini bukan larangan untuk merencanakan kehidupan. Ia merupakan peringatan agar ikhtiar tidak berubah menjadi ilusi bahwa semua hasil harus tunduk pada kehendak kita. Ada wilayah usaha manusia, tetapi ada pula wilayah ketentuan الله yang tidak dapat ditembus oleh kecemasan.
Perencanaan yang sehat membuat langkah menjadi terarah. Sebaliknya, keinginan menguasai hasil membuat pikiran terus berjaga bahkan ketika tidak ada lagi yang dapat dikerjakan. Kita mengulang percakapan yang telah berlalu dan mengantisipasi bencana yang belum datang. Jiwa kehilangan tenaga bukan karena beratnya kenyataan, melainkan karena memikul berbagai kemungkinan sebagai seolah-olah semuanya telah terjadi.
Pulang berarti mengembalikan kesadaran kepada pusatnya. Kita berhenti sejenak dari suara dunia agar dapat mendengar apa yang sesungguhnya sedang berlangsung di dalam diri. Apakah kita sedang bekerja karena amanah, atau karena takut dinilai gagal? Apakah kita sedang mengejar tujuan yang bermakna, atau hanya melarikan diri dari rasa tidak berharga? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat dijawab oleh pikiran yang terus berisik.
Sebelum memulai kegiatan hari ini, duduklah selama beberapa menit tanpa membuka layar. Tarik napas perlahan, lalu sadari bahwa tidak semua urusan harus diselesaikan pagi ini. Sebut nama الله dengan tenang. Serahkan kembali perkara yang tidak berada dalam kendali kita, kemudian pilih satu amanah yang benar-benar perlu dikerjakan. Kepulangan batin dimulai ketika perhatian tidak lagi tercerai-berai oleh semua hal sekaligus.
Ketenangan bukan keadaan ketika dunia berhenti menuntut kita. Ketenangan lahir ketika hati mengetahui mana yang harus dikerjakan, mana yang harus ditinggalkan, dan mana yang harus diserahkan. Kita tidak perlu menunggu kehidupan menjadi sunyi untuk menemukan kedamaian. Kita hanya perlu berhenti membawa seluruh dunia masuk ke dalam kepala.
Hikmah Hari Ini: Jiwa mulai pulang ketika ia berhenti memikul sesuatu yang tidak pernah dipercayakan kepadanya.
Rujukan Utama: Ibn ʿAṭā’illāh al-Sakandarī, al-Ḥikam al-ʿAṭā’iyyah.
Penulis: Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Waktu terbit: Sabtu, 18 Juli 2026 08:03 WIB
Penutup Artikel