Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Empat orang duduk di satu meja, tetapi membawa empat cara melihat dunia. Semula mereka berbicara tentang gagasan. Perlahan suara meninggi, nama kelompok disebut, dan pendapat berubah menjadi ukuran akhlak orang lain. Teh di atas meja belum habis, tetapi persahabatan hampir selesai. Tidak ada yang benar-benar mendengar; masing-masing hanya menunggu jeda untuk membalas. Mungkin masalah zaman ini bukan terlalu banyak perbedaan, melainkan terlalu sedikit adab untuk menanggung perbedaan.
Teknologi memudahkan kita hidup di dalam ruangan yang memantulkan suara sendiri. Algoritma menyodorkan berita yang sejalan, akun yang sepemikiran, dan komentar yang menguatkan keyakinan kita. Lama-kelamaan, pandangan yang berbeda tidak lagi terasa sebagai bagian wajar dari kehidupan bersama. Ia hadir seperti gangguan, ancaman, bahkan bukti bahwa orang di seberang meja pasti bodoh atau berniat buruk. Yang akrab terasa benar, sedangkan yang asing sudah ditolak sebelum sempat dipahami.
Pada titik itu, kita berhenti membantah gagasan dan mulai mengurangi kemanusiaan pemiliknya. Satu pilihan politik dianggap cukup untuk menilai seluruh hati seseorang. Satu perbedaan fikih menjadi alasan meragukan keimanannya. Kita lupa bahwa manusia jauh lebih luas daripada pendapat yang sedang ia ucapkan. Ketika ego melekat pada pandangan, koreksi terasa seperti penghinaan dan kemenangan dalam debat lebih penting daripada keselamatan hubungan. Kita pun mencari kesalahan kecil lawan sambil memberi pengampunan luas kepada kelompok sendiri.
‘Abd al-Wahhāb al-Sha‘rānī melalui al-Anwār al-Qudsiyyah memperlihatkan keluasan adab dalam jalan ruhani. Semakin seseorang mengenal keterbatasan dirinya, semakin kecil kebutuhannya untuk merendahkan jalan orang lain. Tawāḍu‘ bukan kehilangan keyakinan, melainkan kesadaran bahwa pengetahuan kita selalu mempunyai tepi. Orang yang kukuh tidak harus kasar; ia mampu menjaga pendirian tanpa menjadikan dirinya hakim atas seluruh isi hati manusia. Ia menyisakan kemungkinan bahwa sesuatu yang belum dipahaminya dapat menjadi pelajaran. Kedalaman membuat suara lebih tertata karena ego tidak lagi harus menang pada setiap kesempatan.
Kwame Anthony Appiah dalam Cosmopolitanism menawarkan gagasan hidup bersama tanpa harus menjadi sama. Percakapan tidak selalu berakhir dengan kesepakatan, tetapi dapat menumbuhkan kebiasaan melihat orang lain sebagai manusia yang mempunyai cerita, loyalitas, dan alasan. Kita mungkin tetap menolak kesimpulannya. Namun setelah sungguh-sungguh mendengar, penolakan itu tidak lagi membutuhkan karikatur atau kebencian untuk berdiri. Percakapan berhasil bukan hanya saat pendapat berubah, tetapi juga ketika prasangka mulai kehilangan kepastiannya.
Dalam Tanbih, Syeikh ‘Abdullāh Mubārak bin Nūr Muḥammad mengingatkan pentingnya kerendahan hati, kasih sayang, dan menjauhi persengketaan. Pesan itu bukan ajakan untuk membungkam kebenaran. Ia mengajarkan bahwa cara menyampaikan kebenaran ikut menentukan apakah hati terbuka atau justru mengeras. Adab menjaga kita agar semangat membela agama tidak berubah menjadi izin mempermalukan manusia yang sama-sama diciptakan الله. Kebenaran tidak bertambah mulia hanya karena disampaikan dengan wajah yang merendahkan.
Sebelum membantah, lakukan satu latihan: jelaskan dahulu pandangan lawan bicara dengan kalimat yang ia sendiri akan anggap adil. Tanyakan, “Apakah saya memahami maksud Anda dengan tepat?” Setelah itu, pisahkan tiga hal: fakta yang dapat diperiksa, nilai yang memang berbeda, dan prasangka yang kita tambahkan sendiri. Pilih pula waktu dan ruang yang tidak menjadikan koreksi sebagai tontonan. Jika kita belum mampu merangkum tanpa mengejek, kemungkinan besar kita belum cukup mendengar untuk layak menjawab.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal (QS. al-Ḥujurāt [49]: 13). Mengenal memerlukan kedekatan yang tidak mungkin lahir dari label semata. Di keluarga, tempat kerja, majelis, dan ruang digital, adab memberi kita kemampuan untuk berkata tegas tanpa menghina, mengoreksi tanpa mempermalukan, dan berpisah pendapat tanpa memutus tali kemanusiaan. Ia juga melindungi pihak yang lebih lemah agar percakapan tidak dikuasai suara yang paling keras. Masyarakat bertahan bukan karena semua orang sepakat, melainkan karena perbedaan tidak selalu diubah menjadi permusuhan.
Meja itu tidak harus menghasilkan satu pikiran. Cukuplah ia menjadi tempat setiap orang dapat pulang tanpa kehilangan martabat. Keyakinan yang kokoh tidak rapuh hanya karena mendengar alasan yang berbeda; justru dari sana ia belajar membedakan keteguhan dari kesombongan. Bahkan bila percakapan harus dihentikan, kita dapat mengakhirinya tanpa menyimpan kebutuhan untuk mempermalukan. Kita boleh tetap berada pada sisi masing-masing, selama tidak melemparkan sesama keluar dari lingkar kemanusiaan. Kita tidak harus menyamakan pikiran untuk menjaga kemuliaan sesama manusia.
Penutup Artikel