Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Malam itu, permintaan yang sama kembali dibawa ke dalam doa. Kita telah mengetuk begitu lama, tetapi pintu yang diharapkan belum juga terbuka. Di antara harap dan lelah, muncul pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana jika doa terbesar bukan lagi “berikan ini kepadaku”, melainkan “jangan biarkan aku kehilangan-Mu bila ini tidak diberikan”? Air mata mungkin tetap jatuh, tetapi arahnya mulai berubah. Di sanalah doa perlahan tumbuh dari tuntutan menjadi perjumpaan.
Banyak doa diam-diam menyimpan kontrak. Kita beribadah, lalu berharap hidup berjalan menurut rancangan kita. Kita bersedekah, lalu menunggu urusan dipermudah. Kita memohon dengan sungguh-sungguh, lalu mengira kesungguhan itu memberi hak untuk menentukan bentuk dan waktu jawaban. Ketika kenyataan bergerak ke arah lain, hati kecewa bukan hanya kepada keadaan, tetapi juga kepada الله yang dianggap tidak memenuhi bagian-Nya. Ibadah pun terasa seperti transaksi yang gagal memberikan barang sesuai pesanan.
Kekecewaan itu manusiawi. Kita boleh menangis, mengaku lelah, bahkan mengatakan bahwa kita belum memahami maksud dari kehilangan. Kejujuran semacam itu lebih dekat kepada doa daripada senyum yang dipaksakan. Namun doa menjadi sempit ketika الله diperlakukan hanya sebagai jalan menuju sesuatu yang lain: pekerjaan, pasangan, kesehatan, keberhasilan, atau pengakuan. Tanpa disadari, pemberian menjadi pusat dan Sang Pemberi ditempatkan di pinggir. Kita ingin tangan-Nya, tetapi belum tentu menginginkan kedekatan dengan-Nya.
Ibn ‘Abbād al-Rundī dalam Ghayth al-Mawāhib al-‘Aliyyah membaca hikmah Ibn ‘Aṭā’illāh sebagai pendidikan bagi kehendak manusia. Jalan ruhani tidak mematikan keinginan, tetapi menertibkannya agar hamba tidak menjadikan rencananya sebagai ukuran tunggal kasih sayang الله. Tafwīḍ adalah menyerahkan urusan setelah ikhtiar, bukan karena kita tidak peduli, melainkan karena pandangan kita terbatas sementara pengetahuan-Nya meliputi seluruh jalan. Penyerahan demikian adalah kedewasaan kepercayaan, bukan kekalahan harapan.
Antropolog T. M. Luhrmann melalui When God Talks Back menunjukkan doa sebagai praktik hubungan yang dilatih melalui perhatian, imajinasi, dan kebiasaan mendengar. Doa bukan tombol yang ditekan agar hasil tertentu keluar. Seperti setiap hubungan yang matang, ia mengandung permintaan, keheningan, kepercayaan, dan kesediaan menerima jawaban yang tidak selalu sesuai dugaan. Kedekatan tumbuh bukan hanya ketika keinginan terpenuhi, tetapi ketika kita tetap hadir dalam percakapan. Ada pembentukan diri yang berlangsung justru selama kita menunggu. Kesabaran, kejujuran, dan kerendahan hati dapat menjadi pemberian yang datang sebelum hasil yang dimohonkan di tengah ketidakpastian yang panjang.
Dalam Miftāḥ al-Ṣudūr, dzikrullah mengembalikan perjalanan kepada pusatnya: mengingat الله, bukan sekadar mengingat daftar kebutuhan di hadapan-Nya. Dzikir membersihkan hati dari keterikatan yang membuat satu hasil tampak seperti satu-satunya jalan keselamatan. Ketika nama-Nya menetap dalam kesadaran, kita tetap dapat menginginkan sesuatu dengan jujur, tetapi tidak lagi menjadikan terkabulnya keinginan itu sebagai syarat untuk mencintai dan mempercayai-Nya. Hati memperoleh sandaran yang tidak ikut runtuh ketika rencana berubah.
Latihlah doa dalam tiga gerak. Pertama, mintalah dengan jujur tanpa berpura-pura tidak mempunyai keinginan. Kedua, kerjakan ikhtiar yang berada dalam jangkauan dengan sungguh-sungguh. Ketiga, serahkan bentuk jawabannya: mungkin dikabulkan seperti yang diminta, ditunda sampai kita siap, dialihkan dari bahaya yang tidak terlihat, atau diganti dengan jalan yang baru dipahami kemudian. Setelah berdoa, catat satu langkah nyata yang dapat dikerjakan dan satu hal yang harus dilepaskan dari kendali. Penyerahan tidak menghapus usaha; ia membebaskan usaha dari keharusan menguasai hasil.
Al-Qur’an menegaskan bahwa الله dekat dan menjawab doa orang yang berdoa (QS. al-Baqarah [2]: 186). Kedekatan itu sendiri adalah jawaban yang sering terlewat karena mata hanya mencari benda yang diminta. Dalam kedekatan, hati memperoleh kekuatan untuk menjalani jawaban yang belum dipahami. Riḍā bukan berhenti berharap atau menyebut semua kepedihan sebagai mudah. Ia adalah kelapangan untuk percaya bahwa kasih sayang tidak wajib datang melalui satu pintu yang kita tunjuk.
Kita akan tetap mengetuk, sebab meminta adalah pengakuan bahwa kita membutuhkan. Namun tangan yang mengetuk dapat menjadi lebih lembut. Ia tidak lagi memukul pintu sambil menentukan kapan harus dibuka dan apa yang harus berada di baliknya. Bila pintu itu terbuka, kita bersyukur. Bila belum, kita tetap menjaga hubungan dengan Pemilik rumah. Kita boleh pulang dari doa tanpa kepastian tentang hasil, tetapi dengan kepastian bahwa kita tidak berjalan sendirian. Doa menjadi dewasa ketika kita tetap mengetuk, tetapi berhenti memerintah pintu.
Penutup Artikel