Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Setiap hari, tanpa benar-benar menyadarinya, kita memasuki sebuah lorong panjang yang dindingnya dipenuhi cermin. Kita berjalan dari satu unggahan ke unggahan lain, dari wajah yang tampak bahagia menuju pencapaian yang terlihat sempurna, dari rumah yang indah menuju perjalanan yang menakjubkan. Namun, hampir semua cermin di lorong itu telah retak. Ia tidak memantulkan kehidupan secara utuh, hanya potongan-potongan yang sengaja dipilih untuk diperlihatkan. Anehnya, kita tetap berdiri di hadapannya dan menjadikan pantulan yang pecah itu sebagai ukuran bagi seluruh hidup kita. Kita menatap keberhasilan orang lain, lalu diam-diam bertanya mengapa hidup kita tidak seindah itu. Kita melihat tubuh, keluarga, pekerjaan, dan kebahagiaan sendiri melalui cermin yang tidak pernah dirancang untuk berkata jujur. Semakin lama memandang, semakin sulit kita mengenali wajah asli kita sendiri.
Yang terlihat di layar hampir selalu merupakan bagian kehidupan yang telah disusun, diterangi, dan dipilih dengan hati-hati. Kita melihat seseorang tiba di puncak, tetapi tidak menyaksikan malam-malam panjang ketika ia hampir menyerah. Kita melihat foto keluarga yang tersenyum, tetapi tidak mengetahui pertengkaran, kecemasan, dan air mata yang mungkin disembunyikan sebelum kamera dinyalakan. Kita melihat gelar, jabatan, rumah baru, perjalanan jauh, atau tubuh yang tampak sempurna, tetapi tidak melihat utang, kesepian, kehilangan, atau ketakutan yang berjalan bersamanya. Masalahnya bukan karena orang lain memperlihatkan kebahagiaannya. Masalah muncul ketika kita membandingkan keseluruhan hidup sendiri dengan satu potongan terbaik dari kehidupan orang lain. Kita mempertemukan luka yang kita ketahui secara mendalam dengan kebahagiaan yang kita lihat hanya dari permukaan. Dalam perbandingan semacam itu, kita hampir pasti merasa kalah.
Perlahan-lahan, nikmat orang lain berubah menjadi tuduhan terhadap kehidupan kita sendiri. Kabar bahagia seorang sahabat tidak lagi sekadar kabar bahagia; ia terdengar seperti suara yang berkata bahwa kita tertinggal. Kenaikan jabatan rekan kerja terasa seperti bukti bahwa kerja keras kita tidak dihargai. Pernikahan seseorang membuat kesendirian terasa seperti kegagalan. Keberhasilan anak orang lain membuat kita meragukan cara membesarkan anak sendiri. Bahkan kebahagiaan orang yang kita cintai dapat melukai ketika hati sedang kehilangan kemampuan untuk bersyukur. Pada titik itu, yang menyakitkan sebenarnya bukan nikmat orang lain, melainkan cerita yang kita bangun tentang diri sendiri setelah melihatnya. Kita berkata, “Mengapa bukan aku?” lalu mengubah perjalanan hidup yang berbeda menjadi perlombaan yang tidak pernah diperintahkan oleh الله. Padahal, dua kehidupan dapat sama-sama diberkahi tanpa harus berjalan pada waktu, bentuk, dan jalan yang serupa.
Abū Ḥāmid al-Ghazālī, dalam pembahasannya mengenai ḥasad di dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, menunjukkan bahwa iri bukan sekadar rasa tidak suka terhadap keberhasilan orang lain. Pada lapisan yang lebih dalam, iri adalah ketidakmampuan hati berdamai dengan pembagian الله. Kita bukan hanya menginginkan apa yang dimiliki orang lain, tetapi diam-diam menggugat mengapa nikmat itu diberikan kepadanya dan tidak kepada kita. Di sinilah ḥasad menjadi penyakit spiritual: ia membuat seseorang sibuk mengawasi jatah orang lain hingga lupa merawat amanahnya sendiri. Hati yang iri tidak pernah benar-benar beristirahat. Ketika orang lain gagal, ia mungkin merasa lega; ketika orang lain berhasil, ia kembali terluka. Lawannya adalah riḍā, bukan dalam arti pasif menerima segala keadaan tanpa ikhtiar, melainkan mengakui bahwa hidup tidak dibagikan secara seragam. Riḍā membebaskan kita dari tuntutan agar jalan orang lain dibatalkan supaya jalan kita terasa berharga.
René Girard membantu kita memahami mengapa perbandingan begitu mudah menguasai hidup. Menurutnya, banyak keinginan manusia bersifat mimetik: kita menginginkan sesuatu karena melihat orang lain menginginkannya. Barang, jabatan, gaya hidup, bahkan gambaran tentang kebahagiaan sering kali tidak lahir dari kebutuhan batin kita sendiri, melainkan dipinjam dari hasrat orang lain. Kita membeli bukan karena perlu, tetapi karena benda itu telah menjadi lambang keberhasilan. Kita mengejar posisi tertentu bukan karena benar-benar mencintai pekerjaan tersebut, tetapi karena posisi itu membuat seseorang tampak penting. Kita ingin pergi ke tempat yang sama, mengenakan sesuatu yang serupa, membangun rumah dengan bentuk yang sedang dikagumi, bahkan menjalani kehidupan yang diam-diam tidak kita inginkan. Dunia digital mempercepat penularan hasrat itu. Ia tidak hanya menunjukkan apa yang dimiliki orang lain, tetapi terus-menerus membisikkan bahwa hidup kita belum cukup sebelum menyerupainya.
Karena itu, ada pertanyaan yang perlu kita ajukan dengan keberanian yang sungguh-sungguh: apakah yang sedang kita kejar memang kita butuhkan, atau hanya kita inginkan karena terus dipertontonkan? Seandainya tidak ada seorang pun yang melihat, apakah kita masih ingin memiliki benda itu? Seandainya tidak dapat diunggah, apakah perjalanan tersebut tetap terasa bermakna? Seandainya tidak mendatangkan kekaguman, apakah jabatan itu masih layak diperjuangkan? Banyak manusia kelelahan bukan karena berjalan terlalu jauh menuju panggilan hidupnya, tetapi karena mengejar kehidupan yang sesungguhnya dirancang oleh pandangan orang lain. Kita begitu sibuk membangun citra sehingga lupa membangun jiwa. Kita ingin terlihat berhasil, bahkan ketika tidak merasa utuh. Kita ingin dikagumi, tetapi kehilangan kemampuan menikmati hidup tanpa penonton. Pada akhirnya, pencitraan menjadikan manusia asing terhadap dirinya sendiri: ia mengenal dengan baik apa yang disukai banyak orang, tetapi tidak lagi mengetahui apa yang menenteramkan hatinya.
Ambillah selembar kertas, lalu tuliskan dua hal dengan jujur. Pertama, satu ambisi yang selama ini dikejar, tetapi mungkin bukan benar-benar milik kita. Bisa berupa pekerjaan, pengakuan, gaya hidup, relasi, atau gambaran kesuksesan yang diwariskan lingkungan. Tanyakan: dari mana keinginan ini datang? Apakah ia tumbuh dari panggilan batin, tanggung jawab, dan nilai yang diyakini, atau dari rasa takut terlihat tertinggal? Kedua, tuliskan satu nikmat yang selama ini tersembunyi karena terlalu sering kita bandingkan dengan milik orang lain. Mungkin tubuh yang masih mampu bangun pagi, rumah yang sederhana tetapi damai, pasangan yang setia, orang tua yang masih dapat ditelepon, anak yang sehat, pekerjaan yang halal, atau kesempatan untuk memperbaiki diri. Al-Qur’an mengingatkan, “Janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan الله kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain” (QS. al-Nisā’ [4]: 32). Ayat itu bukan larangan untuk bertumbuh, melainkan ajakan agar pertumbuhan tidak dimulai dari kebencian terhadap hidup sendiri.
Kedewasaan spiritual terlihat ketika kita mampu merayakan keberhasilan orang lain tanpa kehilangan jalan hidup kita sendiri. Kita dapat mengucapkan selamat tanpa merasa mengecil, belajar tanpa harus meniru, dan terinspirasi tanpa menghapus keunikan perjalanan sendiri. Hati yang matang mengetahui bahwa cahaya orang lain tidak mengurangi cahayanya. Keberhasilan sahabat bukan ancaman, melainkan kesaksian bahwa jalan kebaikan dapat terbuka dalam banyak bentuk. Bahkan kebahagiaan orang lain dapat menjadi latihan untuk menyucikan hati: setiap kali kecemburuan muncul, kita mengubahnya menjadi doa; setiap kali merasa tertinggal, kita kembali memeriksa arah; setiap kali tergoda meniru, kita bertanya tentang amanah yang hanya dapat kita tunaikan. Riḍā bukan berhenti bercita-cita. Ia adalah kemampuan bercita-cita tanpa membenci keadaan hari ini, berjuang tanpa mengutuk perjalanan, dan bertumbuh tanpa kehilangan rasa syukur.
Barangkali hidup tidak pernah meminta kita menjadi salinan terbaik dari orang lain. Ia meminta kita menjadi diri yang paling jujur di hadapan الله. Untuk itu, kita perlu berhenti terlalu lama berdiri di depan cermin-cermin yang retak. Kita perlu membersihkan pandangan dari iri, pencitraan, dan kebutuhan untuk terus diakui. Ketika hati mulai jernih, kita tidak lagi melihat kehidupan orang lain sebagai ukuran yang harus ditandingi, melainkan sebagai kisah yang dapat dihormati. Kita juga mulai memandang hidup sendiri bukan sebagai versi yang gagal dari kehidupan orang lain, tetapi sebagai amanah dengan jalur, musim, luka, dan kemungkinan yang khas. Pengenalan diri tidak membuat kita merasa paling istimewa; ia membuat kita berhenti hidup dari pantulan. Cermin yang jernih tidak membuat kita menjadi orang lain; ia mengembalikan kita kepada diri sendiri.
Penutup Artikel