21 Juli 2026 | Cermin Kehidupan
Oleh: Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Hening tampak seperti sesuatu yang tidak berharga karena ia tidak dapat dipamerkan, diperdagangkan, atau diukur sebagai produktivitas. Namun justru karena itulah hening semakin mahal. Di tengah masyarakat yang hidup dari perebutan perhatian, kemampuan untuk diam tanpa merasa kehilangan sesuatu telah menjadi bentuk kemewahan batin.
Banyak orang merasa tidak nyaman ketika suasana mulai sunyi. Televisi dinyalakan meskipun tidak ditonton. Musik diputar bukan untuk dinikmati, melainkan agar ruangan tidak terasa kosong. Tangan memeriksa telepon tanpa tujuan yang jelas. Seolah-olah jika suara berhenti, sesuatu yang menakutkan akan muncul dari dalam diri.
Yang ditakuti manusia sesungguhnya bukan keheningan, melainkan perjumpaan dengan dirinya sendiri. Ketika suara luar mereda, kita mulai mendengar kegelisahan yang selama ini disembunyikan oleh kesibukan. Kekecewaan yang belum diterima, kesepian yang tidak diakui, dan pertanyaan mengenai tujuan hidup perlahan tampil ke permukaan. Distraksi kemudian digunakan sebagai tirai agar semua itu tetap tidak terlihat.
Peradaban digital memahami ketakutan tersebut dengan sangat baik. Setiap jeda diisi oleh notifikasi, video pendek, berita baru, dan percakapan yang tidak pernah selesai. Kebosanan dianggap musuh yang harus segera diusir. Padahal kebosanan kadang merupakan ambang awal menuju kedalaman. Tanpa melewati ambang itu, manusia hanya berpindah dari satu rangsangan kepada rangsangan berikutnya tanpa pernah mengetahui apa yang sebenarnya ia cari.
Dalam al-Risālah al-Qushayriyyah, al-Qushayrī menempatkan diam sebagai bagian dari disiplin perjalanan ruhani. Diam bukan sekadar menutup mulut. Ia adalah kemampuan menahan diri dari ucapan yang tidak perlu, meredakan dorongan untuk selalu menjelaskan diri, dan membuka ruang agar hati dapat menangkap makna yang biasanya tenggelam dalam keramaian.
Hening juga tidak berarti menarik diri secara permanen dari kehidupan. Seorang sufi tidak diam karena tidak mempunyai kepedulian. Ia memilih diam agar perkataannya kelak tidak lahir dari kemarahan, kesombongan, atau kebutuhan untuk menang. Keheningan membersihkan sumber ucapan. Dari hati yang jernih, kata-kata tidak lagi digunakan untuk menguasai orang lain, melainkan untuk menerangi keadaan.
Di sinilah hening mempunyai dimensi sosial. Banyak pertengkaran terjadi bukan karena tidak ada jawaban, tetapi karena setiap orang ingin segera didengar sebelum bersedia mendengar. Ruang keluarga, komunitas, bahkan kehidupan publik dipenuhi manusia yang menunggu giliran berbicara. Hening mengajarkan kerendahan hati bahwa pengalaman orang lain tidak selalu harus segera ditanggapi dengan pendapat kita.
Sisihkan tujuh menit siang ini untuk tidak melakukan apa pun selain hadir. Letakkan telepon, hentikan percakapan, dan jangan berusaha menghasilkan kesimpulan. Dengarkan napas, suara di sekitar, dan gerak pikiran tanpa menghakiminya. Ketika dorongan untuk mengambil gawai muncul, jangan segera menurutinya. Sadari bahwa keheningan sedang memperlihatkan bagian diri yang selama ini meminta perhatian.
Hening memang menuntut harga. Kita harus membayar dengan keberanian menghadapi kekosongan, menunda hiburan, dan melepaskan kebutuhan untuk selalu terlihat sibuk. Namun dari ruang yang tampaknya kosong itulah jiwa memperoleh kembali kedalamannya. Dunia mungkin menawarkan seribu suara, tetapi hanya hati yang hening yang mampu mengetahui suara mana yang layak diikuti.
Hikmah Hari Ini: Hening terasa menakutkan hanya selama kita masih menjadikan keramaian sebagai tempat bersembunyi.
Rujukan Utama: Abū al-Qāsim al-Qushayrī, al-Risālah al-Qushayriyyah.
Penulis: Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Waktu terbit: 21 Juli 2026 08:00 WIB
Penutup Artikel