Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Suatu malam, kemarahan datang mengetuk pintu hati. Ia tidak masuk dengan tangan kosong. Ia membawa kabar tentang harga diri yang dilukai, kebaikan yang disepelekan, janji yang dikhianati, atau ketidakadilan yang dibiarkan terlalu lama. “Aku datang karena ada sesuatu yang tidak beres,” katanya. Kita lalu mempersilahkannya masuk. Namun, sering kali kita lupa bertanya: apakah ia hanya akan menyampaikan pesan, atau justru mengambil alih seluruh rumah?
Marah tidak selalu buruk. Ia dapat menjadi tanda bahwa batas telah dilanggar, seseorang diperlakukan tidak adil, atau nilai yang kita yakini sedang direndahkan. Tanpa daya marah, manusia mungkin kehilangan keberanian untuk berkata tidak kepada penindasan. Bahkan diam di hadapan keburukan dapat menjadi bentuk pembiaran. Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah kita marah, melainkan apa yang dilakukan kemarahan setelah ia hadir.
Bahaya muncul ketika marah tidak lagi mencari penyelesaian, tetapi mulai menikmati penghukuman. Di ruang digital, kesalahan seseorang dapat berubah menjadi tontonan bersama. Kita membagikan aib, menambahkan hinaan, lalu merasa sedang membela kebenaran. Hukuman dianggap belum cukup sebelum orang itu kehilangan pekerjaan, keluarga, nama baik, dan kesempatan memperbaiki diri. Pada saat itu, keadilan telah bergeser menjadi kenikmatan melihat orang lain hancur.
Jalāl al-Dīn Rūmī dalam Mathnawī-yi Ma‘nawī berulang kali menunjukkan bahwa amarah menyempitkan pandangan. Ketika dikuasai marah, kita tidak lagi melihat manusia secara utuh. Satu kesalahan menghapus seluruh kebaikannya. Satu kalimat buruk membuat kita merasa berhak menilai seluruh hidupnya. Kemarahan mengubah manusia menjadi satu label: bodoh, jahat, sesat, atau tidak berguna. Padahal, tidak ada seorang pun yang dapat diringkas hanya oleh satu kegagalannya.
Martha Nussbaum membedakan kemarahan pembalasan dari kemarahan yang bergerak menuju perbaikan. Kemarahan pembalasan berkata, “Ia harus menderita karena telah membuatku menderita.” Sementara kemarahan transisional bertanya, “Apa yang harus dilakukan agar kerusakan ini tidak berulang?” Yang pertama sibuk menghitung luka. Yang kedua mencari jalan keluar. Yang pertama memerlukan musuh. Yang kedua memerlukan keberanian, aturan yang adil, dan kemungkinan perubahan.
Tobat dari marah bukan berarti kehilangan ketegasan. Ia berarti membebaskan keberanian dari kebencian. Dalam tasawuf, kaẓm al-ghayẓ bukan memendam kemarahan sampai berubah menjadi racun, melainkan menahan ledakannya agar hati dapat memilih tindakan yang lebih jernih. Dari sana tumbuh ḥilm: kelembutan yang lahir dari kekuatan, bukan kelemahan. Orang yang matang tidak harus berteriak untuk menunjukkan bahwa dirinya benar.
Sebelum sebuah kata keluar, biarkan ia melewati tiga gerbang. Pertama: apakah yang akan dikatakan benar, atau hanya dugaan yang dibesarkan oleh emosi? Kedua: apakah perlu disampaikan sekarang, atau lebih baik menunggu hati menjadi tenang? Ketiga: dapatkah kebenaran itu disampaikan tanpa merendahkan martabat manusia? Banyak penyesalan dapat dicegah apabila kita memberi jarak antara rasa tersinggung dan tombol kirim.
Dalam kehidupan publik, kritik tetap harus tajam. Kekuasaan yang menyimpang perlu ditegur, kebijakan yang merugikan harus dikoreksi, dan ketidakadilan tidak boleh diselimuti oleh bahasa kesopanan palsu. Namun, kritik yang bermartabat menyerang masalah, bukan menghapus kemanusiaan orang yang dikritik. Ia berani, tetapi tidak kejam. Ia tegas, tetapi tidak mabuk penghinaan. Al-Qur’an memuji orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan manusia (QS. Āli ‘Imrān [3]: 134), bukan agar mereka menjadi lemah, melainkan agar kekuatan mereka tidak berubah menjadi kebengisan.
Barangkali kemarahan tidak harus diusir seluruhnya. Ia perlu didudukkan, didengarkan, lalu diarahkan. Tanyakan kepadanya: luka apa yang kau bawa, nilai apa yang sedang kaubela, dan tindakan apa yang benar-benar akan memperbaiki keadaan? Setelah itu, serahkan hati kepada الله agar api tidak menguasai rumah batin. Sebab, kemarahan yang tidak disucikan akan mencari korban, tetapi kemarahan yang bertobat akan mencari jalan keluar.
Marah menjadi cahaya ketika ia berhenti membakar manusia dan mulai menerangi masalah.
Penutup Artikel