Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Nama itu muncul lagi di layar telepon. Kita melihatnya, berniat menelepon kembali setelah rapat, setelah perjalanan, setelah urusan rumah selesai. Namun satu kesibukan menyusul kesibukan lain, sampai malam tiba dan panggilan itu terlupakan. Di rumah yang berbeda, seorang ayah atau ibu mungkin masih menunggu dering balasan. Bagi kita itu satu notifikasi; bagi mereka, mungkin itulah percakapan yang paling dinantikan hari ini. Suatu hari, nomor yang sering kita tunda bisa jadi tidak akan menelepon lagi.
Banyak anak telah berusaha memenuhi kebutuhan orang tuanya. Uang dikirim, obat dibelikan, tagihan dibayar, dan rumah diperbaiki. Semua itu adalah bentuk kasih yang nyata. Tetapi ada kebutuhan yang tidak dapat dikirim melalui transfer bank: perasaan bahwa cerita mereka masih layak didengar, bahwa pendapat mereka belum kehilangan tempat, dan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar kewajiban yang harus dikelola di sela jadwal kita. Kiriman dapat membuat hidup lebih mudah, tetapi belum tentu membuat hari yang panjang terasa ditemani.
Usia perlahan mengambil banyak hal dari orang tua: kekuatan tubuh, luas pergaulan, pekerjaan, pasangan hidup, bahkan kemampuan pergi sesuka hati. Ketika dunia mereka mengecil, kehadiran anak memperoleh arti yang semakin besar. Sebuah telepon singkat dapat menjadi jendela menuju dunia luar. Sebaliknya, jawaban yang selalu terburu-buru dapat membuat mereka merasa sedang mengganggu kehidupan yang dahulu mereka bantu bangun. Kesepian lansia sering tidak bersuara; ia menyamar sebagai pertanyaan sederhana yang sama dan diulang berkali-kali.
Al-Ghazālī dalam Bidāyat al-Hidāyah menempatkan adab kepada orang tua sebagai bagian dari pendidikan jiwa. Adab itu tampak dalam kelembutan suara, kesediaan mendengar, dan penghormatan yang tidak hilang ketika tubuh mereka melemah atau cerita mereka berulang. Berbakti bukan hanya melakukan hal besar. Ia hadir ketika kita menahan ketidaksabaran, tidak mempermalukan kelupaan mereka, dan membiarkan percakapan berjalan dengan irama yang tidak lagi secepat langkah kita. Justru pada pengulangan itulah kesabaran berhenti menjadi teori dan berubah menjadi akhlak.
Eva Feder Kittay, melalui Love’s Labor, menunjukkan bahwa ketergantungan dan perawatan bukan penyimpangan dari kehidupan manusia. Kita semua pernah bergantung dan mungkin akan bergantung lagi. Pandangan ini membongkar kesombongan manusia dewasa yang merasa sepenuhnya mandiri. Tangan yang hari ini menyuapi orang tua mungkin sedang mengulangi cinta yang dahulu kita terima saat belum mampu memegang sendok sendiri. Perawatan mengingatkan bahwa martabat tidak berkurang hanya karena seseorang membutuhkan bantuan.
Dalam tradisi khidmah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah, pelayanan bukan pekerjaan pinggiran dari perjalanan ruhani. Dzikir yang menghidupkan hati seharusnya melembutkan tangan ketika berhadapan dengan mereka yang semakin lemah. Mengingat الله tidak menjauhkan kita dari tanggung jawab keluarga; ia membuat kita sadar bahwa kesempatan melayani adalah amanah yang waktunya terbatas. Orang tua bukan gangguan bagi ibadah. Merawat mereka dapat menjadi bentuk ibadah yang paling sunyi. Di sanalah dzikir diuji oleh nada suara, tatapan mata, dan kesediaan mengulang bantuan tanpa mengeluh.
Mulailah dengan tiga hal kecil. Lakukan satu panggilan tanpa mengerjakan hal lain pada saat yang sama. Jadwalkan satu kunjungan tanpa agenda selain duduk bersama. Dengarkan satu cerita lama sampai selesai meskipun kita sudah hafal ujungnya. Jika jarak tidak memungkinkan, kirim rekaman suara, foto keseharian, atau pertanyaan yang sungguh-sungguh ingin kita dengar jawabannya. Ajak saudara menyusun ritme kehadiran agar perhatian tidak hanya datang ketika kesehatan mereka menurun. Yang mereka cari sering kali bukan durasi panjang, melainkan perhatian yang utuh.
Al-Qur’an memerintahkan kita untuk tidak mengatakan “ah” kepada orang tua dan mendoakan keduanya dengan kasih (QS. al-Isrā’ [17]: 23–24). Di zaman ini, “ah” mungkin tidak selalu terucap. Ia dapat hadir sebagai nada tergesa, mata yang terus menatap layar, atau janji “nanti” yang berulang tanpa pernah menjadi waktu. Berbakti menuntut kita mengubah kasih dari niat baik menjadi kehadiran nyata yang dapat dirasakan oleh mereka setiap hari.
Suatu hari, kursi di ruang tamu itu mungkin benar-benar kosong. Pada saat itu, kita tidak akan menghitung berapa banyak uang yang pernah dikirim, melainkan percakapan yang sempat terjadi dan kunjungan yang selalu ditunda. Selagi pintu masih dapat dibuka dan suara mereka masih dapat menjawab, marilah menyediakan diri, bukan hanya menyediakan kebutuhan. Ada cinta yang tidak meminta hadiah; ia hanya berharap kita masih punya waktu untuk duduk.
Penutup Artikel