Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Pernahkah kita duduk bersama orang-orang yang kita cintai, tetapi diam-diam merasa tidak ditemani siapa pun? Sebuah keluarga berkumpul di meja makan. Tubuh mereka hanya berjarak beberapa jengkal, tetapi pikiran masing-masing berada di tempat yang berbeda. Seseorang menggulir berita, yang lain membalas pesan, seorang anak menonton video, sementara percakapan hanya muncul sesekali untuk menanyakan hal-hal yang perlu. Ruangan itu ramai oleh suara, cahaya layar, dan pemberitahuan yang datang silih berganti. Namun, tidak seorang pun sungguh-sungguh hadir. Ironisnya, kita dapat mengetahui apa yang sedang dilakukan seseorang ribuan kilometer jauhnya, tetapi tidak menyadari kesedihan orang yang duduk tepat di hadapan kita. Kita semakin mudah dihubungi, tetapi semakin sulit disentuh.
Zaman ini memberi kita begitu banyak koneksi, tetapi tidak selalu menghadirkan perjumpaan. Daftar kontak bertambah, jumlah pengikut meningkat, grup percakapan terus bertumpuk, tetapi kepada siapa kita dapat berbicara tanpa harus terlihat kuat? Koneksi membuat seseorang dapat dijangkau; perjumpaan membuat seseorang merasa diterima. Koneksi bertukar informasi; perjumpaan saling menyerahkan perhatian. Kita mungkin berbicara dengan puluhan orang dalam sehari, tetapi pulang dengan perasaan bahwa tidak seorang pun benar-benar mengenal kita. Sebab kedekatan tidak ditentukan oleh seberapa sering nama seseorang muncul di layar, melainkan seberapa aman jiwa kita ketika berada di hadapannya. Ada orang yang hadir setiap hari, tetapi tidak pernah masuk ke ruang batin kita. Sebaliknya, ada seseorang yang hanya berkata, “Ceritakanlah, aku mendengarkan,” lalu membuat beban yang lama menyesakkan terasa sedikit lebih ringan.
Kesepian karena itu tidak selalu berarti ketiadaan manusia. Seseorang dapat tinggal sendirian tanpa merasa kesepian, dan dapat merasa sangat kesepian di tengah keluarga, kantor, bahkan komunitas keagamaan. Kesepian yang paling menyakitkan muncul ketika kita tidak memiliki tempat untuk meletakkan diri apa adanya. Kita takut bercerita karena setiap keluhan segera dibandingkan, setiap luka cepat dinasihati, dan setiap kelemahan mudah dihakimi. Akhirnya kita belajar menjawab, “Aku baik-baik saja,” bukan karena benar-benar baik, tetapi karena tidak ingin dianggap merepotkan. Kita tersenyum agar orang lain tetap nyaman, sementara hati perlahan kehilangan tempat untuk bernapas. Barangkali yang paling dirindukan jiwa bukanlah keramaian baru, melainkan satu ruang kecil tempat ia tidak harus menjelaskan, mempertahankan, atau menyamarkan dirinya.
Dalam al-Risālah al-Qushayriyyah, Abū al-Qāsim al-Qushayrī memperkenalkan istilah uns: suatu keakraban batin yang membebaskan seseorang dari perasaan terlantar. Uns bukan sekadar berada bersama, melainkan merasa disertai. Pada tingkat terdalam, ia lahir dari kesadaran bahwa الله tidak pernah jauh dari hamba-Nya. Al-Qur’an menegaskan bahwa Dia lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri (QS. Qāf [50]: 16). Ayat itu tidak hanya berbicara tentang pengetahuan Tuhan, tetapi juga tentang kedekatan yang tidak pernah putus, bahkan ketika manusia merasa tidak dimengerti oleh siapa pun. Dalam uns, sunyi tidak lagi terasa sebagai kehampaan. Ia menjadi ruang perjumpaan dengan Zat yang mengetahui semua kata sebelum diucapkan, memahami semua air mata sebelum jatuh, dan menerima manusia bahkan ketika ia tidak mampu menjelaskan keadaan dirinya.
Namun, kedekatan dengan الله tidak seharusnya menjauhkan kita dari manusia. Justru orang yang mengalami uns akan belajar menghadirkan rasa aman bagi sesamanya. Ia tidak terburu-buru menghakimi karena ia sendiri hidup dari keluasan rahmat. Ia tidak memaksa orang lain segera pulih karena ia memahami bahwa setiap hati memiliki musimnya sendiri. Vivek H. Murthy dalam Together mengingatkan bahwa hubungan sosial bukan sekadar pelengkap kehidupan, melainkan kebutuhan mendasar manusia yang berpengaruh terhadap kesehatan tubuh, ketahanan jiwa, dan kualitas hidup. Kita bukan hanya membutuhkan makanan, udara, dan tempat berlindung; kita membutuhkan seseorang yang menyadari keberadaan kita. Sering kali yang membuat manusia bertahan bukan jawaban atas seluruh persoalannya, melainkan keyakinan bahwa ia tidak menghadapi persoalan itu sendirian.
Di sinilah kita perlu membedakan khalwah dari keterasingan. Khalwah adalah kesunyian yang dipilih untuk menjernihkan diri; keterasingan adalah kesepian yang membuat manusia kehilangan jalan kembali. Dalam khalwah, seseorang mengambil jarak sejenak dari kebisingan agar dapat mendengar gerak batinnya, mengingat الله, menata niat, dan menyembuhkan perhatian yang tercerai. Ia masuk ke dalam sunyi bukan karena membenci manusia, tetapi agar dapat kembali kepada manusia dengan hati yang lebih lapang. Sementara itu, isolasi membuat seseorang semakin tertutup, curiga, dan merasa tidak membutuhkan siapa pun. Khalwah mengolah keheningan menjadi kasih; keterasingan mengeraskan keheningan menjadi tembok. Ukurannya sederhana: apabila kesendirian membuat kita lebih sabar, lebih jernih, dan lebih mampu mengasihi, ia mungkin sedang menjadi jalan spiritual. Namun, apabila ia membuat kita semakin pahit dan memutus semua hubungan, barangkali kita tidak sedang menepi, melainkan perlahan tenggelam.
Kita dapat memulai penyembuhan itu melalui satu percakapan penuh setiap hari. Bukan percakapan sambil menggulir layar, menonton televisi, atau memikirkan jawaban sendiri, melainkan percakapan yang menghadirkan seluruh perhatian. Pilihlah seorang anak, pasangan, sahabat, orang tua, murid, atau rekan kerja. Letakkan telepon dalam keadaan terbalik, pandang wajahnya, lalu tanyakan, “Bagaimana keadaanmu sebenarnya?” Setelah itu, tahanlah dorongan untuk segera memberi nasihat. Jangan memotong ceritanya dengan pengalaman kita sendiri. Jangan terburu-buru berkata bahwa orang lain mengalami hal yang lebih berat. Dengarkan kata-kata yang diucapkan dan kesunyian di antara kata-kata itu. Kadang-kadang manusia tidak membutuhkan solusi. Ia hanya memerlukan seseorang yang tidak pergi ketika ceritanya mulai menjadi berat.
Komunitas spiritual pun harus berani memeriksa dirinya. Majelis dzikir, masjid, pesantren, kelompok pengajian, dan perkumpulan tarekat semestinya bukan hanya tempat orang duduk berdekatan dalam ritual, tetapi ruang ṣuḥbah: persahabatan ruhani yang saling menjaga perjalanan. Kerumunan ritual belum tentu melahirkan kedekatan batin. Orang dapat mengucapkan doa bersama, lalu pulang tanpa mengetahui bahwa seseorang di sebelahnya sedang kehilangan pekerjaan, merawat orang tua yang sakit, menghadapi konflik keluarga, atau berjuang melawan putus asa. Ṣuḥbah menuntut lebih dari kehadiran fisik. Ia memerlukan kepedulian, kerahasiaan, kesetiaan, dan keberanian untuk memikul sebagian beban orang lain. Spiritualitas yang tidak melahirkan persahabatan mudah berubah menjadi kesalehan yang dingin: ramai dalam ucapan, tetapi sepi dari sentuhan kemanusiaan.
Pada akhirnya, manusia tidak selalu membutuhkan lebih banyak orang. Ia membutuhkan kehadiran yang lebih utuh. Kita perlu belajar menyendiri tanpa merasa dibuang, dan belajar bersama tanpa saling kehilangan. Sunyi diperlukan agar kita tidak hidup hanya dari suara dunia; persahabatan diperlukan agar kita tidak mengira seluruh perjalanan dapat ditempuh seorang diri. Ketika hati menyadari kedekatan الله, ia tidak lagi meminta manusia mengisi seluruh kekosongannya. Ketika hati belajar hadir bagi sesama, ia menjadi jalan bagi orang lain untuk merasakan rahmat-Nya. Barangkali kita tidak dapat menyembuhkan semua kesepian di dunia, tetapi kita dapat berhenti menjadi manusia yang hadir setengah-setengah. Kita dapat menyediakan satu telinga yang sungguh mendengar, satu tatapan yang tidak menghakimi, dan satu ruang tempat seseorang boleh menjadi dirinya sendiri.
Sepi membangun dinding, sunyi membuka pintu.
Penutup Artikel