Tafsir Al-Qur’an Melayu memiliki posisi penting dalam sejarah transmisi pemikiran Islam di Asia Tenggara. Melalui kajian terhadap Tarjumān al-Mustafīd karya ʿAbd al-Raʾūf al-Sinkilī, penelitian ini menelusuri jejak tafsir Sufi klasik dan hermeneutika ishārī dengan membandingkannya dengan Ḥaqāʾiq al-Tafsīr karya al-Sulamī, Laṭāʾif al-Ishārāt karya al-Qushayrī, dan al-Baḥr al-Madīd karya Ibn ʿAjībah. Fokus analisis diarahkan pada motif nūr, tazkiyah, dan qalb salīm, dengan raḥmah dan mīzān sebagai kasus pelengkap.
Temuan menunjukkan bahwa Tarjumān al-Mustafīd bukan tafsir Sufi dalam pengertian genre yang ketat, tetapi tetap menyimpan resonansi ishārī melalui proses lexical retention, selective omission, ethical amplification, semantic compression, dan pedagogical domestication. Konsep-konsep Sufi klasik tidak disalin secara literal, melainkan direformulasi ke dalam bahasa Melayu yang lebih ringkas, etis, dan pedagogis. Kajian ini menawarkan konsep “textual appropriation” untuk menjelaskan bagaimana motif-motif tafsir Sufi klasik mengalami adaptasi dan transformasi dalam tradisi penafsiran Al-Qur’an Melayu.
Penutup Artikel