Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Jika tidak ada kamera, tidak ada unggahan, tidak ada nama kita disebut, apakah tangan ini masih akan terulur? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi menyentuh tempat yang paling tersembunyi dalam diri. Kita hidup di zaman ketika hampir setiap kebaikan dapat direkam, dibagikan, diberi musik, lalu dilihat ribuan orang. Tidak semuanya salah. Tetapi ada saat ketika kita perlu mematikan kamera dan bertanya pelan: sebenarnya siapa yang sedang kita tolong—orang yang membutuhkan, atau ego kita sendiri yang ingin terlihat baik?
Media sosial memang dapat memperbesar kebaikan. Satu kisah dapat menggerakkan ribuan orang untuk berdonasi, membuka mata publik terhadap penderitaan, bahkan menyelamatkan hidup seseorang. Namun, layar juga dapat mengubah penderitaan menjadi panggung. Wajah anak miskin, rumah yang rusak, pakaian lusuh, atau air mata seseorang dipertontonkan agar cerita terasa lebih menyentuh. Kita memperoleh tepuk tangan karena memberi, sementara orang yang menerima harus membayar bantuan itu dengan kehilangan privasi dan martabatnya.
Karena itu, dokumentasi perlu dibedakan dari eksploitasi. Ada dokumentasi yang memang dibutuhkan untuk akuntabilitas, pendidikan publik, atau mengajak orang lain terlibat. Tetapi ada pula gambar yang sebenarnya tidak perlu diambil. Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah foto ini bagus?”, melainkan, “Apakah orang yang ada di dalamnya rela hidupnya dilihat banyak orang?” Kebutuhan kita menunjukkan transparansi tidak otomatis memberi hak untuk membuka luka seseorang. Bantuan tidak boleh menjadikan orang lain kehilangan kendali atas kisah hidupnya sendiri.
Syeikh ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī dalam al-Ghunyah li-Ṭālibī Ṭarīq al-Ḥaqq mengingatkan pentingnya adab, pemurnian niat, dan penghambaan yang tidak berpusat pada diri. Di sinilah ikhlāṣ menjadi ujian yang sunyi. Kebaikan yang dilakukan hanya karena الله tidak selalu membutuhkan saksi manusia. Justru ketika tidak ada yang melihat, kita dapat mengetahui apakah hati masih ingin memberi. Khidmah yang sejati membuat pelayan semakin kecil di hadapan amanah, bukan semakin besar di hadapan orang yang dilayaninya.
Didier Fassin melalui Humanitarian Reason mengingatkan bahwa tindakan kemanusiaan tidak pernah sepenuhnya bebas dari relasi kuasa. Orang yang memberi memiliki pilihan, sedangkan orang yang membutuhkan sering berada dalam posisi sulit untuk menolak. Karena itu, ucapan “mereka sudah mengizinkan” belum selalu berarti hubungan itu setara. Bisa jadi seseorang tersenyum di depan kamera karena khawatir bantuan tidak diberikan jika ia menolak. Kebaikan menjadi matang ketika kita mampu menolong tanpa memanfaatkan kerentanan orang lain.
Pesan serupa terasa kuat dalam Tanbih Syeikh ‘Abdullāh Mubārak bin Nūr Muḥammad. Kepada mereka yang berada dalam keadaan lebih lemah, seseorang tidak diajarkan merasa lebih tinggi, melainkan menghadirkan kasih sayang, kebersihan budi, dan kemurahan hati. Inilah adab sosial tasawuf: semakin besar kemampuan kita memberi, semakin kecil alasan kita untuk merendahkan penerimanya. Di hadapan الله, orang yang memberi dan menerima sama-sama sedang diuji—yang satu dengan kelapangan, yang lain dengan kesempitan.
Sebelum kamera dinyalakan, tanyakan beberapa hal. Apakah orang ini benar-benar memberi izin? Apakah wajahnya perlu terlihat? Apakah nama dan kisah pribadinya harus disebut? Apakah gambar dapat diambil tanpa menunjukkan keadaan yang membuatnya malu? Apakah dokumentasi cukup dilakukan dari sisi kegiatan, bukan dari wajah penderitaannya? Dan yang lebih penting: jika saya berada di posisinya, apakah saya rela momen paling rentan dalam hidup saya menjadi konsumsi publik?
Sedekah bukan hanya memindahkan uang, makanan, pakaian, atau obat dari satu tangan ke tangan lain. Sedekah yang utuh juga menjaga karāmat al-insān—kemuliaan manusia. Seseorang seharusnya pulang dari tempat kita bukan hanya membawa bantuan, tetapi tetap membawa harga dirinya. Al-Qur’an bahkan memperingatkan agar sedekah tidak dirusak dengan menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti penerimanya (QS. al-Baqarah [2]: 264). Terkadang menyakiti hari ini bukan melalui kata-kata, melainkan melalui kamera yang membuat kesulitan seseorang abadi di internet.
Barangkali sebagian kebaikan terbaik memang tidak akan pernah masuk ke galeri telepon. Tidak ada unggahan, tidak ada nama, tidak ada tepuk tangan. Hanya satu tangan yang memberi dan satu hati yang merasa sedikit lebih ringan. Biarlah الله saja yang mengetahui seluruh ceritanya. Sebab ada amal yang justru semakin indah ketika tidak banyak orang menyaksikannya, dan ada manusia yang justru semakin terhormat ketika pertolongannya tidak menjadikan penderitaan orang lain sebagai dekorasi kesalehan. Kebaikan kehilangan sebagian cahayanya ketika penderitaan orang lain kita jadikan panggung.
Penutup Artikel