Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Pernahkah sepiring makanan di meja tiba-tiba terasa hambar hanya karena percakapan tentang uang? Harga beras naik, biaya sekolah datang, cicilan menunggu, sementara penghasilan tidak selalu bergerak secepat kebutuhan. Di warung, orang membicarakan perkara yang sama dengan nada bercanda, tetapi matanya menyimpan kecemasan. Pertanyaan yang paling sering muncul bukan lagi, “Apa yang kita inginkan?”, melainkan, “Apakah bulan ini kita masih sanggup bertahan?”
Tekanan ekonomi tidak hanya mengurangi isi dompet. Ia dapat memendekkan kesabaran dan mengubah cara anggota keluarga berbicara satu sama lain. Perselisihan kecil mudah membesar ketika kepala dipenuhi tagihan. Pasangan saling menyalahkan karena sama-sama takut. Orang tua merasa gagal ketika tidak mampu memenuhi permintaan anak. Kekurangan kemudian tidak hanya dirasakan sebagai keadaan ekonomi, tetapi sebagai ancaman terhadap harga diri dan ketenteraman rumah.
Namun, ada perbedaan antara kekurangan yang nyata dan rasa kurang yang terus diproduksi. Kekurangan nyata terjadi ketika kebutuhan dasar tidak terpenuhi. Sementara itu, rasa kurang muncul ketika apa yang sebenarnya cukup terlihat tidak berarti karena terus dibandingkan. Iklan dan media sosial membuat barang lama tampak tidak layak, rumah sederhana terasa memalukan, dan kehidupan biasa dianggap gagal. Kita lalu kehilangan kemampuan menikmati apa yang sudah berada dalam genggaman.
Dalam Qūt al-Qulūb, Abū Ṭālib al-Makkī menjelaskan qanā‘ah sebagai kekuatan hati yang membebaskan manusia dari kerakusan. Qanā‘ah bukan berhenti bekerja atau menerima keadaan tanpa ikhtiar. Ia adalah kemampuan berusaha tanpa diperbudak hasil. Seseorang tetap mencari nafkah, merencanakan masa depan, dan memperbaiki kehidupan, tetapi tidak menggantungkan seluruh harga dirinya pada jumlah yang berhasil dikumpulkan. Di situlah tawakkul tumbuh: bekerja dengan sungguh-sungguh, lalu bersandar kepada الله.
Erich Fromm membedakan kehidupan yang berorientasi “memiliki” dari kehidupan yang berorientasi “menjadi”. Dalam orientasi pertama, manusia menilai dirinya dari barang, jabatan, dan pengakuan. Dalam orientasi kedua, ia bertanya: manusia seperti apa yang sedang kubentuk? Kita mungkin belum memiliki banyak, tetapi masih dapat menjadi lebih jujur, sabar, berilmu, dan berguna. Ketika keberhasilan hanya diukur dari kepemilikan, rasa cukup akan selalu menjauh.
Tasawuf, bagaimanapun, tidak boleh meromantisasi kemiskinan. Mengajarkan qanā‘ah kepada orang yang lapar sambil membiarkan ketidakadilan berlangsung adalah kekeliruan moral. Upah yang tidak layak, akses pendidikan yang timpang, dan kebijakan yang memberatkan masyarakat tetap harus diperbaiki. Kesederhanaan adalah pilihan etis, sedangkan kemiskinan yang dipaksakan merupakan persoalan sosial. Spiritualitas yang sehat tidak membungkam tuntutan keadilan, tetapi menguatkannya.
Ada latihan sederhana yang dapat dimulai dari rumah. Bagilah pengeluaran ke dalam tiga kelompok: kebutuhan, kenyamanan, dan prestise. Kebutuhan menopang kehidupan. Kenyamanan membuat hidup lebih mudah, tetapi masih dapat dikurangi. Prestise terutama dibeli agar kita terlihat berhasil. Setelah itu, tanyakan dengan jujur: bagian mana yang benar-benar diperlukan, dan bagian mana yang hanya melayani gengsi? Mungkin sebagian kecemasan dapat dikurangi bukan dengan menambah pendapatan, melainkan dengan membatasi keinginan.
Qanā‘ah yang sejati tidak membuat seseorang menutup mata terhadap kesulitan orang lain. Justru ketika hati tidak lagi sibuk menambah tanpa batas, tangan menjadi lebih mudah berbagi. Makanan berlebih dapat menguatkan tetangga. Pakaian yang jarang digunakan dapat kembali memberi manfaat. Sebagian penghasilan dapat meringankan keluarga yang sedang terhimpit. Merasa cukup seharusnya melahirkan solidaritas, bukan kenyamanan yang membuat kita melupakan penderitaan.
Al-Qur’an menegaskan bahwa siapa yang bertawakal kepada الله, maka Dia akan mencukupkannya (QS. al-Ṭalāq [65]: 3). Kecukupan bukan berarti hidup tanpa kesulitan, melainkan memiliki hati yang tidak mudah runtuh ketika keadaan berubah. Kita tetap bekerja, menabung, dan memperjuangkan kehidupan yang layak. Namun, kita tidak lagi membiarkan harga diri ditentukan oleh apa yang dimiliki. Cukup bukan jumlah yang kita miliki, melainkan batas yang kita berikan kepada keinginan.
End of Article