Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Bayangkan suatu malam Anda menerima sebuah video. Wajah di dalamnya adalah wajah Anda. Suaranya pun terdengar persis seperti suara Anda. Ia tersenyum, bergerak, lalu mengatakan sesuatu yang tidak pernah Anda katakan. Untuk beberapa detik, mungkin Anda sendiri ragu: benarkah itu saya? Teknologi hari ini telah sampai pada kemampuan meminjam wajah dan suara seseorang dengan nyaris sempurna. Namun, sebelum kita terlalu takut kepada deepfake, ada pertanyaan yang lebih sunyi: berapa kali kita sendiri meminjam “wajah” yang bukan sungguh-sungguh diri kita hanya agar diterima orang lain?
Manusia ternyata telah mengenal deepfake jauh sebelum kecerdasan buatan menciptakannya. Kita belajar tersenyum ketika hati sedang remuk, berkata “baik-baik saja” ketika sebenarnya ingin ditolong, dan terlihat percaya diri saat diam-diam takut dianggap gagal. Di media sosial, hidup mudah berubah menjadi etalase: perjalanan dipilih yang paling indah, keluarga ditampilkan yang paling bahagia, keberhasilan diumumkan, sementara kegagalan disimpan rapat. Tidak semuanya salah. Kita memang tidak harus membuka seluruh kehidupan. Tetapi masalah bermula ketika citra yang dibangun perlahan terasa lebih penting daripada kehidupan yang sebenarnya sedang dijalani.
Ada orang yang tampak sangat berhasil, tetapi tidak tahu lagi mengapa ia mengejar semua itu. Ada yang memiliki ribuan pengikut, tetapi kesulitan menemukan satu orang tempat ia dapat menjadi dirinya sendiri. Ada pula yang terlihat bahagia hampir setiap hari, padahal malam-malamnya dipenuhi kecemasan. Kita kemudian bukan hanya menyembunyikan luka dari orang lain, tetapi mulai menyembunyikannya dari diri sendiri. Kita terlalu lama memainkan peran sampai lupa bagaimana rasanya pulang tanpa kostum. Deepfake yang paling berbahaya akhirnya bukan video palsu tentang kita, melainkan kehidupan palsu yang kita sendiri mulai percayai.
Abū Sa‘īd al-Kharrāz, salah seorang sufi awal yang dikenal kuat berbicara tentang ṣidq, membawa kita kepada pertanyaan tentang kejujuran yang lebih dalam. Ṣidq bukan hanya berkata benar. Ia menyentuh keselarasan antara apa yang diucapkan, diniatkan, dan dijalani. Seseorang dapat tidak pernah berbohong kepada orang lain, tetapi masih hidup dalam kebohongan terhadap dirinya sendiri: mengejar sesuatu yang tidak dicintai, bertahan hanya demi gengsi, atau menampilkan kesalehan yang belum sungguh menyentuh akhlaknya. Kejujuran ruhani dimulai ketika kita berani mengakui keadaan batin tanpa segera mencari pembenaran.
Luciano Floridi mengingatkan bahwa manusia modern hidup bukan hanya dalam dunia fisik, tetapi juga dalam infosphere—lingkungan informasi tempat identitas kita dibentuk, ditampilkan, disimpan, dan dinilai. Foto, komentar, riwayat pencarian, unggahan, dan profil digital perlahan menjadi bagian dari “siapa kita” di mata dunia. Karena itu, kita perlu waspada ketika identitas digital mulai mendikte identitas batin. Jika keputusan hidup dibuat terutama agar menarik ketika diunggah, kita tidak lagi menggunakan media; media perlahan ikut menentukan apa yang kita anggap berharga. Pertanyaannya bukan lagi “Apakah orang melihatku?”, tetapi “Siapakah aku ketika tidak ada seorang pun yang melihat?”
Di sinilah dzikrullah membawa manusia kembali kepada pusat yang tidak dapat dipalsukan. Dalam Miftāḥ al-Ṣudūr, Syeikh Aḥmad Ṣāḥib al-Wafā Tāj al-‘Ārifīn menempatkan dzikir sebagai jalan utama dalam pendidikan ruhani dan mengawali pembahasannya dengan ayat-ayat yang menyeru manusia banyak mengingat الله serta menemukan ketenteraman hati dalam dzikrullah. Dzikir menggeser pusat perhatian dari pandangan manusia menuju pandangan الله. Di hadapan-Nya, tidak ada filter yang berguna. Kita tidak membutuhkan pose, reputasi, atau citra. Yang tersisa hanyalah hati sebagaimana adanya.
Cobalah suatu malam mengenali tiga wajah dalam diri. Pertama, wajah yang kita tampilkan kepada publik: bagaimana kita ingin dikenal? Kedua, wajah ketika sendirian: apa yang muncul ketika tepuk tangan, jabatan, gelar, dan layar tidak lagi hadir? Ketiga, wajah ketika berdiri di hadapan الله: apa yang sesungguhnya kita takutkan, rindukan, sembunyikan, dan harapkan? Jangan buru-buru memperbaiki jawabannya. Cukup dengarkan. Kadang-kadang muḥāsabah paling penting bukan menemukan bahwa kita buruk, tetapi menemukan betapa jauhnya jarak antara diri yang ditampilkan dan diri yang sungguh dijalani.
Menjadi autentik tidak berarti menceritakan semuanya kepada semua orang. Privasi adalah bagian dari martabat. Tidak setiap kesedihan harus diunggah, tidak setiap konflik perlu diketahui publik, dan tidak setiap pengalaman ruhani harus diumumkan. Keaslian justru berarti kita tidak membutuhkan kebohongan untuk mempertahankan citra. Kita boleh memilih apa yang diperlihatkan, tetapi jangan sampai pilihan itu membuat kita membenci kehidupan yang tidak diperlihatkan. Ikhlāṣ mengajari kita melakukan sesuatu yang baik bahkan ketika tidak ada yang tahu, sedangkan ṣidq menjaga agar diri yang tersembunyi tidak menjadi lawan dari diri yang tampak.
Mungkin tantangan terbesar zaman digital bukan hanya melindungi wajah dari orang yang ingin memalsukannya, tetapi menjaga hati agar tidak ikut menjadi palsu. Dunia akan terus menawarkan filter yang membuat kita tampak lebih menarik, narasi yang membuat hidup terlihat lebih berhasil, dan angka yang memberi ilusi tentang harga diri. Tetapi setiap hari kita masih dapat pulang kepada ruang yang tidak membutuhkan pertunjukan: ruang antara hati dan الله. Di sana, kita tidak perlu tampak hebat. Kita hanya perlu benar. Sebab pada akhirnya,
wajah dapat dipalsukan, hati selalu tahu siapa yang sedang diperankannya.
End of Article