Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Ada hari-hari ketika kita ingin pergi sejauh mungkin. Menjauh dari pekerjaan yang menekan, berita yang melelahkan, konflik keluarga, tuntutan orang lain, bahkan dari diri sendiri. Kita membayangkan tempat sunyi, hidup sederhana, tanpa telepon yang berbunyi dan tanpa siapa pun yang meminta apa-apa. Keinginan itu manusiawi. Tetapi sebuah pertanyaan perlu diajukan dengan jujur: apakah kita sedang mencari الله, atau hanya sedang mencari tempat untuk bersembunyi dari kehidupan?
Tidak semua perjalanan menjauh adalah perjalanan menuju الله. Ada orang yang memasuki kesunyian karena ingin menemukan kejernihan, tetapi ada pula yang menggunakannya untuk menghindari tanggung jawab. Kita dapat rajin berdoa, tetapi enggan meminta maaf. Kita dapat menikmati dzikir, tetapi tetap menyakiti orang di rumah. Kita dapat merasa dekat dengan langit, sementara urusan di bumi dibiarkan berantakan. Spiritualitas menjadi pelarian ketika ia membuat kita merasa suci tanpa membuat kita lebih bertanggung jawab.
‘Alī ibn ‘Uthmān al-Hujwīrī dalam Kashf al-Maḥjūb menunjukkan bahwa pengalaman spiritual tidak berhenti pada keadaan batin yang memabukkan. Ada sukr, tetapi ada pula ṣaḥw: kejernihan setelah pengalaman ruhani, ketika seseorang kembali hadir dalam kehidupan dengan kesadaran yang lebih matang. Kualitas seorang penempuh jalan bukan hanya terlihat dari apa yang ia rasakan ketika sendiri bersama الله, tetapi dari siapa dirinya ketika kembali menghadapi manusia—apakah lebih sabar, lebih jujur, lebih lembut, dan lebih berguna.
Charles Taylor menyebut manusia modern terus mencari suatu keadaan “kepenuhan” di tengah hidup yang terasa terpecah. Kita memiliki banyak pilihan, tetapi sulit merasa utuh. Kita berpindah dari pekerjaan ke hiburan, dari layar ke layar, dari pencapaian ke pencapaian, tetapi tetap membawa kehampaan yang sama. Karena itulah spiritualitas menjadi menarik. Namun, kepenuhan sejati tidak ditemukan dengan sekadar meninggalkan dunia, sebab diri yang kita bawa ke tempat sunyi tetaplah diri yang sama. Yang perlu berubah bukan selalu tempat kita berada, melainkan cara kita hadir.
Pulang kepada الله karena itu bukan perjalanan geografis. Ia adalah perubahan pusat kehidupan. Kita tetap bekerja, mencintai keluarga, membayar tagihan, mendidik anak, dan terlibat dalam masyarakat, tetapi semuanya tidak lagi menjadi tujuan terakhir. Dalam Miftāḥ al-Ṣudūr, Syeikh Aḥmad Ṣāḥib al-Wafā Tāj al-‘Ārifīn menempatkan dzikir sebagai jalan utama menjaga hati tetap terhubung kepada الله di tengah kehidupan. Dzikir bukan membuat kita meninggalkan kenyataan; ia membuat kenyataan tidak lagi mengambil alih seluruh hati.
Di sinilah khalwah bertemu dengan khidmah. Kita masuk ke dalam keheningan bukan supaya tidak lagi membutuhkan manusia, tetapi agar dapat kembali kepada manusia tanpa diperbudak kebisingannya. Dalam Faḍā’il al-Syuhūr, Syeikh Muḥammad ‘Abd al-Ghaos Saefulloh Maslul menjelaskan tajarrud sebagai pengosongan diri dari akhlak tercela yang berjalan bersama mujāhadat al-nafs. Maka kesunyian yang benar seharusnya mengurangi ego, bukan membesarkannya. Kita menyepi agar kembali lebih mampu melayani.
Ada empat ikrar sederhana yang dapat kita bawa setiap hari. Pertama, menyediakan beberapa menit untuk hening dan mengingat الله sebelum dunia mengambil perhatian. Kedua, menjaga kejujuran meskipun tidak ada yang melihat. Ketiga, menghadirkan diri secara utuh ketika bersama keluarga, sahabat, atau siapa pun yang sedang berbicara. Keempat, memastikan bahwa setiap hari ada sesuatu yang menjadi lebih baik karena keberadaan kita—meskipun hanya satu orang yang merasa didengar atau satu beban yang menjadi lebih ringan.
Barangkali seluruh perjalanan batin memang bergerak menuju keutuhan itu. Kita belajar berhenti agar perhatian tidak terus tercerai. Kita memasuki sunyi agar tidak menjadi sepi. Kita membersihkan cermin agar tidak hidup dari perbandingan. Kita berjalan perlahan agar tidak kehilangan arah. Kita belajar merasa cukup, mengolah marah, bekerja tanpa kehilangan diri, menerima luka, mendengar dzikir bumi, dan membebaskan diri dari ketakutan. Semua itu bukan jalan untuk meninggalkan kehidupan, tetapi latihan agar kita akhirnya mampu hadir di dalamnya dengan hati yang lebih utuh.
Al-Qur’an mengingatkan, “Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah الله” (QS. al-Baqarah [2]: 115). Maka الله tidak hanya ditemukan di tempat sunyi, tetapi juga di rumah yang harus dirawat, pekerjaan yang harus ditunaikan, orang tua yang harus ditemani, masyarakat yang harus dilayani, dan bumi yang harus dijaga. Kita tidak perlu lari dari dunia untuk menemukan-Nya. Kita hanya perlu berhenti menempatkan dunia di tempat yang seharusnya hanya ditempati oleh-Nya.
Pulang bukan berarti meninggalkan dunia, melainkan berhenti menjadikan dunia sebagai tujuan terakhir.
End of Article