Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Ada doa yang tidak datang dalam bentuk yang kita minta. Kita telah merencanakan pekerjaan, hubungan, keluarga, kesehatan, dan masa depan dengan sungguh-sungguh, tetapi hidup tiba-tiba bergerak ke arah lain. Sebuah pintu tertutup, seseorang pergi, tubuh melemah, atau kabar duka datang tanpa memberi waktu untuk bersiap. Pada saat seperti itu, yang runtuh bukan hanya rencana, melainkan juga gambaran tentang siapa diri kita dan bagaimana hidup seharusnya berjalan.
Zaman ini sering terlalu cepat menyuruh orang yang terluka untuk kembali “baik-baik saja”. Belum selesai menangis, kita diminta bersyukur. Belum sempat memahami kehilangan, kita sudah diberi nasihat bahwa semua pasti ada hikmahnya. Kalimat itu mungkin benar, tetapi kebenaran yang disampaikan terlalu dini dapat terasa seperti penolakan terhadap rasa sakit. Tidak semua luka harus segera diterjemahkan. Ada duka yang lebih dahulu perlu ditemani sebelum dapat dimaknai.
Viktor Frankl mengingatkan bahwa manusia masih mungkin menemukan makna di tengah penderitaan. Namun, menemukan makna bukan berarti menyebut penderitaan itu baik atau menganggap kehilangan tidak menyakitkan. Makna lahir ketika kita bertanya: setelah semua yang tidak dapat kuubah ini, sikap apa yang masih dapat kupilih? Kita mungkin tidak memilih luka yang datang, tetapi perlahan dapat memilih agar luka itu tidak mengubah kita menjadi manusia yang pahit.
Dalam Futūḥ al-Ghayb, ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī membaca ujian sebagai ruang penanggalan ketergantungan-ketergantungan palsu. Ketika sesuatu yang kita jadikan sandaran runtuh, kita baru menyadari betapa rapuhnya tempat kita menggantungkan ketenangan. Ujian tidak selalu datang untuk menghancurkan, tetapi dapat menyingkap apa yang selama ini diam-diam kita pertuhankan: jabatan, pasangan, kesehatan, pujian, atau kepastian hidup. Di balik kehilangan, hati dipanggil kembali menemukan sandaran yang tidak ikut hilang.
Menerima kenyataan bukan berarti berhenti berikhtiar. Taslīm bukan kepasrahan fatalistik, melainkan keberanian melihat keadaan sebagaimana adanya agar kita dapat mengambil langkah yang jernih. Dalam Miftāḥ al-Ṣudūr, Syeikh Aḥmad Ṣāḥib al-Wafā Tāj al-‘Ārifīn menempatkan dzikir sebagai jalan membersihkan dan menghidupkan hati. Dzikir tidak menghapus kenyataan yang pahit, tetapi menjaga agar kepahitan itu tidak menguasai seluruh batin.
Luka juga dapat memperluas kasih. Orang yang pernah kehilangan lebih mudah mengenali kesedihan di balik senyum orang lain. Orang yang pernah rapuh tidak terburu-buru menghakimi kelemahan. Dalam Faḍā’il al-Syuhūr, Syeikh Muḥammad ‘Abd al-Ghaos Saefulloh Maslul menjelaskan nafs al-lawwāmah sebagai jiwa yang tersentuh cahaya peringatan lalu bangkit memperbaiki diri, meskipun perjalanannya belum selalu stabil. Penyembuhan pun demikian: kadang maju, kadang kembali menangis, tetapi tetap bergerak.
Berilah nama kepada kehilangan itu. Katakan dengan jujur: “Aku kehilangan pekerjaan,” “aku ditinggalkan,” “aku sedang berduka,” atau “aku belum siap menerima keadaan ini.” Menamai luka membuatnya tidak lagi menjadi kabut yang memenuhi seluruh kehidupan. Izinkan diri menangis, berdoa, diam, dan beristirahat. Ketika beban terasa terlalu berat, carilah pertolongan dari keluarga, sahabat, pembimbing ruhani, konselor, atau tenaga profesional. Meminta bantuan bukan kekalahan iman.
Setelah perlahan pulih, jangan biarkan luka hanya menjadi kisah tentang diri sendiri. Jadilah ruang aman bagi orang yang sedang melewati malam serupa. Dengarkan tanpa segera menggurui. Temani tanpa memaksa mereka cepat sembuh. Jangan membandingkan dukanya dengan duka orang lain. Mungkin kita tidak dapat mengangkat seluruh bebannya, tetapi kehadiran yang tidak menghakimi dapat membuat seseorang merasa bahwa ia tidak harus menanggung semuanya sendirian.
Al-Qur’an mengajarkan, ketika musibah datang, orang beriman mengingat bahwa dirinya berasal dari الله dan akan kembali kepada-Nya; kepada mereka tercurah rahmat dan petunjuk (QS. al-Baqarah [2]: 156–157). Kembali kepada الله bukan berarti menyangkal kehilangan, tetapi membawa kehilangan itu ke hadapan Zat yang mengetahui kedalaman hati. Pada waktunya, luka mungkin tetap meninggalkan bekas, tetapi bekas itu tidak selalu menjadi tanda kehancuran.
Sebagian luka tidak menutup jalan, ia sendiri perlahan menjadi jalan.
End of Article