Budi Rahman Hakim, Ph.D.
“Apakah kamu tahu?” Dahulu, pertanyaan itu membuat manusia berhenti dan berpikir. Hari ini, tangan kita segera bergerak mencari jawaban. Dalam hitungan detik, mesin menyusun penjelasan yang terdengar meyakinkan. Kita lalu merasa sudah mengetahui. Tetapi mungkin bahaya terbesar zaman ini bukan lagi ketidaktahuan. Yang lebih berbahaya adalah tidak tahu bahwa kita tidak tahu—ketika sedikit informasi telah cukup membuat kita merasa layak berbicara tentang segala sesuatu.
Mesin memang dapat menjawab lebih cepat daripada kita membaca satu halaman buku. AI mampu merangkum, membandingkan, menerjemahkan, bahkan menyusun argumentasi. Tetapi kecepatan tidak sama dengan kebenaran. Jawaban yang terdengar rapi tetap dapat keliru, kehilangan konteks, atau menyederhanakan perkara yang sebenarnya rumit. Pertanyaan yang matang karena itu bukan hanya, “Apa jawabannya?”, melainkan, “Dari mana jawaban ini datang? Apa buktinya? Apa yang mungkin terlewat?” Kecepatan membantu kita menemukan informasi; kehati-hatian menentukan apakah informasi itu layak dipercayai.
Informasi juga belum tentu menjadi ilmu. Kita dapat mengetahui banyak fakta tanpa memahami hubungan di antaranya. Kita dapat menghafal teori tanpa pernah menguji asumsi di baliknya. Dan ilmu pun belum tentu menjadi hikmah. Hikmah lahir ketika pengetahuan telah melewati akal, pengalaman, adab, dan kejernihan hati sehingga seseorang mengetahui bukan hanya apa yang dapat dilakukan, tetapi juga apa yang seharusnya dilakukan. Dunia mungkin tidak kekurangan manusia berpengetahuan. Yang semakin langka adalah orang berpengetahuan yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus menunduk.
Al-Niffarī, melalui al-Mawāqif wa al-Mukhāṭabāt, membawa pembacanya memasuki bahasa paradoks: semakin manusia mendekati kedalaman hakikat, semakin ia menyadari keterbatasan bahasa dan pengertiannya sendiri. Kedalaman spiritual tidak membuat seseorang semakin mudah mengklaim bahwa dirinya telah memahami segalanya. Justru sebaliknya. Ada wilayah kehidupan yang harus didekati dengan kerendahan hati. Orang yang baru berdiri di tepi laut mungkin banyak bicara tentang laut; orang yang pernah tenggelam di kedalamannya biasanya lebih berhati-hati memilih kata.
Sosiolog ilmu Harry Collins juga mengingatkan bahwa memiliki akses kepada informasi tidak sama dengan memiliki keahlian. Kita dapat membaca banyak artikel kedokteran tanpa menjadi dokter, menonton video ekonomi tanpa menjadi ekonom, atau bertanya kepada AI tentang agama tanpa otomatis memiliki kedalaman seorang alim. Internet telah mendemokratisasi informasi, tetapi sekaligus mudah menciptakan ilusi kompetensi. Kita membaca tiga paragraf lalu merasa mampu membantah orang yang menekuni bidang itu selama puluhan tahun. Pengetahuan menjadi berbahaya ketika ia tumbuh lebih cepat daripada kesadaran akan batasnya.
Di sinilah pendidikan ruhani menjadi penting. Dalam Miftāḥ al-Ṣudūr, Syeikh Aḥmad Ṣāḥib al-Wafā Tāj al-‘Ārifīn tidak menempatkan dzikrullah sekadar sebagai ucapan lisan, tetapi sebagai jalan membersihkan hati dan menghidupkan kesadaran kepada الله. Kitab itu menghubungkan dzikir dengan ketenteraman hati dan penyucian batin dari penghalang yang menutupi kejernihan. Ilmu memerlukan hati yang demikian. Sebab kecerdasan tanpa dzikir mudah membuat manusia merasa besar; dzikir mengingatkan bahwa seluas apa pun pengetahuan kita, kita tetap hamba di hadapan Yang Maha Mengetahui.
Ada tiga kalimat sederhana yang perlu dikembalikan ke dalam kehidupan intelektual kita: “Saya belum tahu.” “Saya perlu memeriksa.” “Mungkin saya keliru.” Kalimat-kalimat ini terasa ringan, tetapi ego sering sulit mengucapkannya. Cobalah menunda komentar ketika informasi belum lengkap. Periksa sumber sebelum membagikan berita. Dengarkan orang yang memang menguasai bidangnya. Dan ketika bukti baru menunjukkan bahwa pendapat kita salah, jangan sibuk menyelamatkan gengsi. Selamatkanlah hubungan kita dengan kebenaran.
Tawāḍu‘ intelektual bukan minder, ragu terhadap semua hal, atau takut memiliki pendirian. Kita tetap boleh mempunyai argumen yang kuat dan keyakinan yang teguh. Namun, kita membedakan keyakinan dari kesombongan. Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak mengikuti sesuatu yang ia tidak mempunyai pengetahuan tentangnya (QS. al-Isrā’ [17]: 36). Orang yang rendah hati bukan orang yang tidak mempunyai ilmu, melainkan orang yang cukup mencintai kebenaran sehingga rela dikoreksi olehnya—bahkan ketika koreksi itu meruntuhkan pendapat yang selama ini dibanggakannya.
Mungkin inilah adab pengetahuan yang paling kita perlukan di zaman AI: jangan berlomba menjadi orang yang selalu punya jawaban. Jadilah manusia yang mampu mengajukan pertanyaan dengan jujur, memeriksa sebelum percaya, belajar sebelum menghakimi, dan mengubah pendapat ketika kebenaran menuntutnya. Sebab tujuan ilmu bukan membuat kepala penuh dan nama semakin tinggi. Ilmu seharusnya membuat pandangan lebih jernih, hati lebih rendah, dan langkah lebih berhati-hati di hadapan الله. Ilmu menjadi cahaya ketika ia membuat kita semakin sulit merasa paling tahu.
End of Article