Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Ada percakapan yang seharusnya hanya hidup di antara dua hati. Seseorang bercerita karena percaya: tentang rumah tangganya, kegagalannya, ketakutannya, atau luka yang bahkan belum selesai ia pahami. Lalu suatu hari, percakapan itu berubah menjadi screenshot. Dikirim kepada satu orang, diteruskan kepada yang lain, kemudian dibaca banyak mata. Dalam beberapa menit, sesuatu yang diserahkan sebagai kepercayaan berubah menjadi tontonan. Kita sering takut rahasia kita diketahui orang lain, tetapi jarang bertanya: seberapa aman rahasia orang lain ketika berada di tangan kita?
Teknologi membuat pengkhianatan terhadap rahasia menjadi sangat mudah. Dahulu seseorang harus mengingat, menulis, atau menceritakan ulang. Sekarang cukup dengan satu sentuhan: capture, forward, share. Kita bahkan dapat melakukannya sambil berkata, “Jangan bilang siapa-siapa, ya.” Ironinya, masing-masing merasa bukan dirinya yang membocorkan karena hanya meneruskan. Padahal amanah tidak hilang hanya karena pengkhianatan dilakukan secara berjamaah. Satu tombol dapat membawa sesuatu yang sangat pribadi keluar dari ruang yang tidak pernah dimaksudkan untuk publik.
Tidak semua yang benar harus diberitakan. Mengetahui sesuatu tidak otomatis memberikan hak untuk menyebarkannya. Kita mungkin mengetahui konflik rumah tangga teman, kelemahan rekan kerja, masa lalu seseorang, atau kesalahan anggota keluarga. Semua itu bisa benar. Tetapi kebenaran tanpa adab dapat menjadi kekerasan. Dalam tradisi Islam, satr—menutupi aib—bukan berarti membenarkan kejahatan atau menutup perkara yang memang harus ditangani. Ia berarti tidak menjadikan kelemahan manusia sebagai hiburan, alat balas dendam, atau bahan untuk menaikkan posisi diri.
Tradisi ādāb al-ṣuḥbah yang berkembang dalam tasawuf menempatkan persahabatan sebagai ruang aman bagi perjalanan jiwa. Al-Sulamī memperlihatkan bahwa ṣuḥbah bukan hanya kebersamaan, tetapi latihan menahan ego agar orang lain tidak terluka oleh kehadiran kita. Semakin dekat seseorang kepada kita, semakin banyak sisi rapuh yang akan kita lihat. Kedekatan karena itu bukan izin untuk mengetahui semuanya, apalagi mengumumkannya. Justru semakin banyak yang dipercayakan kepada kita, semakin besar kewajiban untuk menjaganya.
Helen Nissenbaum, melalui Privacy in Context, membantu melihat bahwa privasi bukan sekadar persoalan “rahasia” dan “bukan rahasia”. Informasi memperoleh makna dari konteks tempat ia diberikan. Cerita yang disampaikan seorang anak kepada ibunya belum tentu boleh dibagikan kepada grup keluarga. Curahan hati seorang sahabat tidak otomatis menjadi konsumsi pasangan kita. Pesan yang dikirim secara pribadi tidak kehilangan sifat pribadinya hanya karena secara teknis mudah diteruskan. Adab digital dimulai ketika kita menghormati konteks kepercayaan, bukan sekadar kemampuan teknologi.
Dalam Tanbih, Syeikh ‘Abdullāh Mubārak bin Nūr Muḥammad—Abah Sepuh—mewariskan etika hubungan yang dibangun di atas penghormatan, kasih, dan kemampuan menahan diri dalam memperlakukan sesama. Bahkan terhadap orang yang menyakiti, nasihatnya tetap mengarah kepada penjagaan sikap dan kasih sayang. Jika kepada orang yang memusuhi saja martabat kemanusiaan harus dijaga, terlebih kepada mereka yang datang kepada kita dengan kepercayaan. Menjaga rahasia pada akhirnya bukan sekadar soal diam; ia adalah cara menjaga kehormatan seseorang ketika ia sedang tidak berada di hadapan kita.
Sebelum menekan tombol share, ajukan empat pertanyaan. Cerita siapa ini? Jika bukan milik kita, berhati-hatilah merasa berhak atasnya. Izin siapa yang sudah diberikan? Diamnya seseorang bukan persetujuan untuk dipublikasikan. Manfaat apa yang lahir jika dibagikan? Jangan menyamakan rasa ingin tahu dengan kemaslahatan. Dan terakhir, luka apa yang mungkin muncul sesudahnya? Empat pertanyaan sederhana itu dapat menyelamatkan persahabatan, keluarga, bahkan masa depan seseorang dari keputusan yang dibuat hanya dalam beberapa detik.
Persahabatan yang matang bukan tempat kita mengetahui semua kelemahan orang lain, melainkan tempat kelemahan itu tidak perlu ditakuti. Seseorang berani berkata, “Aku sedang tidak baik-baik saja,” karena yakin kalimat itu tidak akan muncul dalam percakapan lain. Ia berani mengakui kesalahan karena tahu pengakuannya tidak akan suatu hari dipakai sebagai senjata. Di zaman ketika hampir semuanya dapat direkam dan disebarkan, memiliki satu manusia yang mampu menyimpan cerita dengan aman adalah bentuk kemewahan ruhani yang semakin langka.
Barangkali setiap manusia membawa sebuah amplop tak terlihat. Di dalamnya ada kegagalan, rasa malu, ketakutan, kisah keluarga, dosa yang disesali, dan luka yang hanya dibuka kepada orang-orang tertentu. Ketika seseorang menyerahkan amplop itu kepada kita, jangan merasa diberi bahan cerita; kita sedang diberi amanah. Tutup kembali dengan lembut setelah mendengarnya. Jangan menjadikan kepercayaan sebagai mata uang sosial. Sebab salah satu bentuk kasih yang paling sunyi adalah menjaga seseorang tetap bermartabat ketika kita mengetahui sisi dirinya yang paling rapuh.
Kepercayaan tumbuh ketika seseorang yakin bahwa kelemahannya aman di tangan kita.
End of Article