Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Pukul telah melewati tengah malam, tetapi layar laptop masih menyala. Tubuh meminta tidur, pasangan menunggu percakapan, dan anak mungkin telah berkali-kali menoleh ke arah pintu. Namun, selalu ada satu surel lagi, satu revisi lagi, atau satu target yang terasa tidak boleh ditunda. Kita berkata sedang bekerja demi keluarga, tetapi perlahan kehilangan kehadiran di tengah keluarga. Barangkali kelelahan terbesar bukan karena terlalu banyak pekerjaan, melainkan karena hidup terus berjalan sementara jiwa tidak sempat ikut pulang.
Pada mulanya, pekerjaan hanyalah sesuatu yang kita lakukan. Perlahan, ia berubah menjadi jawaban atas pertanyaan tentang siapa diri kita. Kita merasa bernilai ketika produktif, diperlukan ketika sibuk, dan aman ketika dipuji. Sebaliknya, kegagalan target terasa seperti kegagalan sebagai manusia. Libur menimbulkan rasa bersalah; istirahat dianggap kemunduran. Kita tidak lagi sekadar mempunyai pekerjaan—pekerjaan mulai memiliki kita. Harga diri akhirnya naik dan turun mengikuti penilaian, jabatan, penghasilan, serta pengakuan orang lain.
Richard Sennett, dalam The Corrosion of Character, menunjukkan bahwa dunia kerja yang serba fleksibel dapat memutus kesinambungan hidup manusia. Pekerjaan berubah cepat, target bergeser, relasi menjadi sementara, dan keberhasilan hari ini tidak menjamin ketenangan esok hari. Manusia dituntut selalu siap menyesuaikan diri, tetapi jarang diberi kesempatan membangun makna yang utuh. Kita bergerak dari satu proyek menuju proyek berikutnya, tetapi sulit menjawab: sebenarnya kehidupan seperti apa yang sedang dibentuk melalui semua kesibukan ini?
Dalam semangat ajaran Abū Naṣr al-Sarrāj melalui Kitāb al-Luma‘ fī al-Taṣawwuf, kehidupan ruhani tidak dipisahkan dari adab, niat, dan keteraturan jiwa. Kerja bukan hanya urusan menyelesaikan tugas, tetapi juga cara manusia berdiri di hadapan الله. Niat menentukan arah, adab menjaga cara, dan kejernihan hati melindungi kita dari kesombongan maupun keputusasaan. Pekerjaan yang sama dapat menjadi ibadah bagi seseorang, tetapi menjadi penjara bagi yang lain, tergantung kepada siapa hatinya mengabdi.
Kerja dapat menjadi khidmah: jalan melayani keluarga, masyarakat, ilmu pengetahuan, dan kehidupan. Namun, kerja berubah menjadi berhala ketika seluruh nilai diri diletakkan di atas hasilnya. Kita rela mengorbankan kesehatan, hubungan, dan ketenteraman demi sesuatu yang terus meminta tambahan. Berhala modern tidak selalu berbentuk benda yang disembah; terkadang ia hadir sebagai target yang tidak boleh gagal. Kerja yang semestinya membantu kita menjalani hidup justru mengambil hampir seluruh kehidupan yang hendak dibantunya.
Ikhlāṣ juga tidak berarti menerima semua beban dalam diam. Keikhlasan bukan izin bagi atasan untuk mengeksploitasi bawahan, bukan alasan lembaga mengabaikan kesehatan pekerja, dan bukan dalih untuk memaksa tubuh melampaui batasnya. Tubuh memiliki hak untuk beristirahat, keluarga memiliki hak atas kehadiran, dan jiwa memerlukan ruang untuk bernapas. Mengatakan “cukup untuk hari ini” tidak selalu berarti lemah. Terkadang, itulah bentuk tanggung jawab agar kita tidak kehilangan diri sebelum pekerjaan selesai.
Bangunlah ritual kecil dalam bekerja. Sebelum memulai, luruskan niat: siapa yang hendak dilayani melalui pekerjaan ini? Saat bekerja, hadirkan perhatian secara utuh; jangan biarkan tubuh berada di satu tempat sementara pikiran tercerai ke banyak arah. Ketika waktu kerja selesai, tutuplah pekerjaan dengan sadar. Rapikan meja, catat hal yang belum selesai, lalu berhenti. Tidak semua tugas harus dibawa ke meja makan, kamar tidur, dan percakapan bersama orang-orang yang kita cintai.
Burnout tidak boleh selalu dianggap kegagalan pribadi dalam mengatur waktu. Ada kelelahan yang lahir dari beban tidak masuk akal, budaya kerja yang memuliakan pengorbanan tanpa batas, serta relasi kuasa yang membuat seseorang takut berkata tidak. Karena itu, lembaga juga harus bertobat: memperjelas beban, menghormati waktu istirahat, memberi ruang aman untuk berbicara, dan menilai manusia lebih dari sekadar angka. Al-Qur’an mengingatkan agar manusia mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagiannya di dunia (QS. al-Qaṣaṣ [28]: 77).
Kita tentu perlu bekerja sungguh-sungguh. Namun, jangan sampai pekerjaan mengambil wajah kita dari keluarga, kesehatan dari tubuh, ketenangan dari hati, dan hubungan dengan الله dari kehidupan. Keberhasilan bukan hanya berapa banyak yang diselesaikan, tetapi apakah kita tetap menjadi manusia yang utuh setelah menyelesaikannya. Pulanglah sebelum hati benar-benar kehilangan rumah. Beristirahatlah sebelum tubuh memaksa kita berhenti.
Pekerjaan yang baik menghidupkan dunia tanpa mematikan jiwa orang yang mengerjakannya.
End of Article