Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Pernahkah Anda merasa terlambat hanya karena melihat hidup orang lain bergerak lebih cepat? Seorang teman telah menikah, sementara kita masih belajar berdamai dengan diri sendiri. Rekan seangkatan memperoleh jabatan yang membanggakan, sedangkan langkah kita seolah tertahan di tempat yang sama. Orang lain telah memiliki rumah, gelar, usaha, keluarga, atau kehidupan yang tampak mapan, sementara kita masih menyusun ulang rencana yang berkali-kali runtuh. Kita kemudian memandangi usia seperti melihat jam yang terus mengejar: “Pada umur segini, seharusnya aku sudah menjadi seseorang.” Padahal, siapa yang menetapkan kata seharusnya itu? Mungkin bukan hidup yang terlambat, melainkan mata kita terlalu lama menghadap perjalanan orang lain hingga lupa membaca arah perjalanan sendiri.
Masyarakat modern mengajarkan kita mengukur hidup dengan kecepatan. Anak yang cepat membaca dianggap lebih cerdas. Mahasiswa yang cepat lulus dipandang lebih berhasil. Karier yang melesat dipuji sebagai bukti kemampuan. Bisnis yang segera membesar disebut inspiratif. Bahkan kesembuhan, kedewasaan, dan ketenangan pun ingin kita peroleh dalam waktu singkat. Kita jarang bertanya seberapa dalam seseorang bertumbuh; kita lebih tertarik mengetahui seberapa cepat ia sampai. Akibatnya, hidup berubah menjadi perlombaan tanpa garis awal yang sama. Kita merasa tertinggal oleh orang yang sebenarnya sedang berjalan menuju tujuan berbeda. Kita mempercepat langkah bukan karena telah menemukan arah, melainkan karena takut melihat punggung orang lain semakin jauh. Padahal, berjalan lebih cepat ke arah yang keliru hanya membuat kita semakin jauh dari rumah.
Hartmut Rosa menyebut keadaan ini sebagai percepatan sosial: dunia berubah semakin cepat, pilihan bertambah, pekerjaan menuntut respons segera, dan teknologi membuat hampir semua hal dapat dilakukan dalam sekejap. Namun, semakin banyak waktu yang berhasil “dihemat”, semakin sedikit waktu yang benar-benar kita rasakan. Kita bergerak dari satu target menuju target berikutnya tanpa sempat mengalami kedatangan. Setelah memperoleh sesuatu, kita segera mencemaskan sesuatu yang belum dimiliki. Setelah menyelesaikan pekerjaan, tugas lain telah menunggu. Setelah mencapai satu jenjang, standar keberhasilan kembali dinaikkan. Hidup akhirnya terasa seperti berjalan di atas ban yang terus bergerak: kita berlari agar tidak jatuh, bukan agar benar-benar tiba. Dalam percepatan seperti ini, manusia kehilangan hubungan yang hidup dengan waktu. Hari-hari dilalui, tetapi tidak dihayati; usia bertambah, tetapi jiwa belum tentu semakin matang.
Tradisi tasawuf mengajarkan cara yang berbeda dalam memandang pertumbuhan. Ibn ‘Aṭā’illāh al-Sakandarī, melalui hikmah-hikmahnya, berkali-kali mengingatkan manusia agar tidak memaksa terbukanya sesuatu sebelum waktu yang ditentukan baginya. Pertumbuhan ruhani bukan proyek yang dapat dikejar hanya dengan kekuatan kehendak. Ada bagian dari perjalanan yang harus diusahakan, tetapi ada pula bagian yang hanya dapat diterima melalui kesabaran. Kita dapat mengetuk pintu, tetapi tidak dapat memaksa pintu itu terbuka sebelum hati siap memasuki ruang di baliknya. Inilah makna tadarruj: perubahan yang berlangsung bertahap, terukur, dan sesuai dengan kemampuan jiwa. Allah tidak selalu mengubah kita melalui lompatan besar. Sering kali, Dia mendidik kita melalui pengulangan kecil—kegagalan yang mengikis kesombongan, penantian yang membersihkan niat, dan keterlambatan yang menyelamatkan kita dari sesuatu yang belum sanggup kita tanggung.
Dalam perjalanan sufi, setiap maqām memerlukan pematangan. Sabar tidak selesai setelah satu kali menahan amarah. Tawakal tidak lahir hanya karena sekali menyerahkan urusan. Ikhlas tidak menjadi sempurna hanya karena kita telah berniat baik. Setiap keadaan batin harus dilewati, diuji, diluruskan, dan dihidupi berulang kali sampai ia berubah dari pengetahuan menjadi watak. Buah yang dipaksa matang mungkin tampak menarik dari luar, tetapi kehilangan rasa di dalamnya. Demikian pula manusia yang terlalu cepat ingin terlihat dewasa, alim, berhasil, atau kuat. Ia mungkin memperoleh bentuk tanpa kedalaman, pengakuan tanpa kesiapan, dan kedudukan tanpa kapasitas batin untuk menjaganya. Tidak semua keterlambatan adalah penolakan. Ada hal-hal yang ditunda karena kita sedang dipersiapkan agar nikmat yang datang tidak justru menghancurkan kita.
Namun, pelan tidak sama dengan malas. Kemalasan menghindari tanggung jawab, sedangkan kelambatan yang sadar memberikan waktu yang layak kepada sesuatu yang bernilai. Kemalasan menunda karena enggan memulai; kesabaran menunggu sambil tetap merawat proses. Seorang petani tidak dapat menarik batang padi agar lebih cepat tinggi, tetapi ia tetap menyiram, membersihkan gulma, menjaga tanah, dan menanti musim. Begitu pula hidup. Kita tidak boleh menggunakan takdir sebagai alasan untuk berhenti berusaha, tetapi juga tidak perlu menjadikan usaha sebagai alasan untuk menyiksa diri. Ada pekerjaan yang harus disegerakan, tetapi ada pertumbuhan yang justru rusak ketika dipaksakan. Kebijaksanaan terletak pada kemampuan membedakan keduanya: kapan harus bergerak, kapan harus menunggu, kapan harus mengetuk lebih keras, dan kapan harus menerima bahwa sebuah pintu belum saatnya dibuka.
Mulailah dengan dua latihan sederhana. Pertama, pilihlah satu pekerjaan setiap hari untuk dilakukan secara utuh tanpa berpindah layar. Ketika membaca, bacalah saja. Ketika menulis, menulislah saja. Ketika berbicara dengan seseorang, hadirkan tubuh dan pikiran di hadapannya. Kita perlu belajar kembali bahwa perhatian yang utuh lebih berharga daripada kesibukan yang terpecah. Kedua, pilihlah satu ambisi yang selama ini terlalu dipaksakan. Jangan meninggalkannya, tetapi berhentilah menjadikannya ukuran harga diri. Katakan kepada diri sendiri: “Aku akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, tetapi aku tidak akan membenci diriku apabila waktunya belum tiba.” Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia akan berpindah “dari satu keadaan kepada keadaan yang lain” (QS. al-Insyiqāq [84]: 19). Kita memang sedang bergerak, tetapi tidak semua perpindahan harus berlangsung sekaligus.
Pendidikan dan dunia kerja juga perlu belajar menghormati pertumbuhan yang bertahap. Terlalu sering kita menuntut hasil sebelum memberi ruang untuk belajar. Mahasiswa didesak segera menghasilkan tulisan yang baik, tetapi tidak cukup diberi waktu untuk membaca secara mendalam. Anak diminta berprestasi, tetapi tidak selalu diberi ruang untuk salah. Pegawai dituntut inovatif, tetapi hidup dalam lingkungan yang menghukum kegagalan. Lembaga menyukai hasil cepat karena mudah dipamerkan, sementara proses yang sunyi jarang memperoleh penghargaan. Akibatnya, banyak orang belajar menampilkan keberhasilan, bukan membangun kemampuan. Kita menghasilkan manusia yang pandai terlihat siap, tetapi rapuh ketika diuji. Pendidikan sejati bukan perlombaan menghasilkan manusia tercepat. Ia adalah kesediaan menemani seseorang sampai benih yang ada di dalam dirinya menemukan bentuk terbaiknya.
Barangkali kita tidak sedang tertinggal. Barangkali kita sedang bertumbuh di bagian kehidupan yang tidak dapat difoto, diumumkan, atau dibandingkan. Ada masa ketika kemajuan tidak tampak sebagai pencapaian, melainkan sebagai kemampuan untuk tidak lagi membenci diri sendiri. Ada masa ketika keberhasilan bukan memperoleh lebih banyak, tetapi melepaskan sesuatu yang selama ini membebani. Ada masa ketika pertumbuhan hanya terlihat dari cara kita merespons luka dengan lebih tenang, menerima kekurangan dengan lebih lembut, dan menjalani hari tanpa terus-menerus meminta pengakuan. Jangan terburu-buru menyebut hidup gagal hanya karena bunga kita belum mekar pada musim yang sama dengan orang lain. Tidak semua pohon berbunga pada bulan yang sama, tetapi setiap akar yang sehat sedang bekerja dalam diam.
Hidup tidak terlambat selama jiwa masih bertumbuh.
End of Article