Integrasi Neo-Sufisme dalam pendidikan kesejahteraan sosial menawarkan pendekatan yang menghubungkan kompetensi profesional dengan kedalaman spiritual. Kajian terhadap kurikulum di beberapa perguruan tinggi Islam Indonesia menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti empati, keadilan, keikhlasan, pelayanan sosial, tazkiyah, dan khidmah sebenarnya telah hadir dalam proses pendidikan, tetapi masih bersifat implisit dan belum tersusun sebagai kerangka kurikulum yang sistematis. Neo-Sufisme karena itu berpotensi menjadi fondasi etis-spiritual bagi pendidikan pekerja sosial yang tidak hanya menekankan keterampilan teknis, tetapi juga pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial.
Pengembangan kurikulum kesejahteraan sosial berbasis Neo-Sufisme membutuhkan model yang lebih operasional melalui tiga pilar utama: spiritualitas sosial, kesadaran transenden, serta transformasi diri dan sosial. Integrasi tersebut dapat diwujudkan melalui mata kuliah, praktikum sosial, project-based learning, jurnal reflektif, dan strategi pedagogi Sufi yang menghubungkan tazkiyah al-nafs dengan pelayanan kepada masyarakat. Pendekatan ini diarahkan untuk melahirkan lulusan yang bukan hanya kompeten secara akademik dan profesional, tetapi juga memiliki empati, integritas, ketahanan moral, serta orientasi kuat pada keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat.
Penutup Artikel