Budi Rahman Hakim, Ph.D.
“Nanti saya kabari.” Kalimat itu sudah berumur beberapa hari di telepon seseorang. Setiap sore ia memeriksa pesan, menunda keputusan lain, dan mencoba menebak seberapa lama kata nanti seharusnya ditunggu. Di pihak yang berjanji, urusannya mungkin tertutup oleh kesibukan baru. Di pihak yang menunggu, urusan itu masih membuka seluruh hari. Sebuah janji ternyata mempunyai dua kalender: kalender orang yang mengucapkannya dan kalender orang yang mempercayainya. Yang pertama dapat lupa, sementara yang kedua terus menyediakan tempat.
Kita mudah menjanjikan banyak hal dalam percakapan yang singkat. Dokumen segera dikirim, pembayaran segera diselesaikan, keputusan segera diumumkan. Layanan digital menyediakan tanda pesan terbaca, tetapi tidak menyediakan kepastian bahwa pekerjaan akan ditunaikan. Dalam keluarga, organisasi, dan usaha kecil, janji yang samar membuat orang lain menanggung biaya menunggu. Mereka harus bertanya lagi, menggeser jadwal, atau menyiapkan rencana cadangan. Ada tenaga yang habis hanya untuk mengejar sesuatu yang sebelumnya sudah disanggupi. Keterlambatan menjadi lebih berat ketika tidak disertai kabar yang jujur.
Kadang kita berkata sanggup karena ingin segera menyenangkan orang. Ada rasa takut dianggap tidak peduli, kurang cekatan, atau tidak mampu. Persetujuan memberi kelegaan sesaat, sedangkan pekerjaan yang mengikutinya diserahkan kepada diri kita di masa depan. Di sinilah wafā’, kesetiaan menunaikan janji, meminta kejujuran terhadap kapasitas. Kita perlu menghitung waktu, tenaga, dan ketergantungan pada orang lain sebelum memberikan kepastian. Menyebut batas sejak awal dapat menjadi bentuk penghormatan. Orang lain memperoleh informasi yang cukup untuk mengatur hidupnya tanpa bergantung pada harapan yang kita sendiri belum sanggup jaga.
Al-Ghazālī dalam pembahasan bahaya lisan pada Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn juga menaruh perhatian pada janji dan kemungkinan mengingkarinya. Lisan dapat melangkah lebih jauh daripada kesediaan tubuh untuk mengikuti. Pembacaan ini mengajak kita memperlambat persetujuan sesaat agar pengamalan tidak terus tertinggal. Yang perlu dibenahi bukan banyaknya kata yang mengesankan, melainkan jarak antara ucapan dan tindakan. Bila janji menyangkut hak orang lain, kelalaian kita tidak tinggal sebagai urusan batin. Ia masuk ke jadwal, pekerjaan, dan rasa aman orang yang mempercayainya.
Peter Gollwitzer meneliti implementation intentions, rencana yang menghubungkan situasi tertentu dengan tindakan yang akan dilakukan. Gagasan itu memberi jembatan sederhana antara niat dan pelaksanaan: kapan, di mana, dan bagaimana pekerjaan dimulai. “Saya akan mengurusnya” dapat diperjelas menjadi “setelah rapat pagi, saya membuka berkas dan mengirim hasilnya sebelum siang”. Rencana seperti ini membantu langkah menjadi lebih terarah, meskipun tidak menjamin semua hambatan hilang. Untuk janji bersama, kejelasan juga memberi kesempatan kepada orang lain mengoreksi perkiraan yang ternyata tidak sesuai kebutuhannya.
Tertib amaliah dalam ‘Uqūd al-Jumān yang dikenal dalam warisan Syeikh Aḥmad Ṣāḥib al-Wafā Tāj al-‘Ārifīn memperlihatkan pentingnya pengamalan yang mempunyai susunan. Kita dapat mengambil pelajaran tentang keteraturan tanpa menyamakan janji kerja dengan aturan ibadah. Kesungguhan memerlukan tempat dalam keseharian. Sesudah dzikir, janji yang dibuat kepada manusia tetap menunggu untuk ditunaikan. QS. al-Isrā’ [17]: 34 mengingatkan bahwa janji akan dimintai pertanggungjawaban. Ayat itu membuat kata nanti terasa mempunyai bobot: ada orang yang menyerahkan sebagian waktunya kepada ucapan kita.
Periksa tiga janji yang masih terbuka. Untuk masing-masing, tulis penerima, hasil yang dijanjikan, tanggal penyelesaian, dan langkah pertama yang bisa dilakukan. Bila perkiraan awal tidak realistis, hubungi orangnya sebelum tenggat lewat. Jelaskan apa yang sudah selesai, apa yang terhambat, dan kapan pembaruan berikutnya diberikan. Beri kesempatan ia menolak perubahan jadwal atau memilih jalan lain. Untuk pekerjaan baru, biasakan mengambil jeda sebelum menyanggupi. Kalimat “saya periksa jadwal dahulu” dapat menyelamatkan hubungan dari persetujuan yang terdengar hangat tetapi berakhir sebagai penantian panjang.
Kejelasan janji juga perlu ditopang oleh cara kerja lembaga. Jangan menjadikan kerajinan satu orang menagih sebagai satu-satunya pengingat. Tetapkan penanggung jawab dan sediakan kabar perkembangan yang mudah ditemukan. Beri ruang bagi staf untuk mengatakan beban telah penuh, agar mereka tidak dipaksa menjanjikan hal mustahil. Di rumah, anak dapat melihat bagaimana orang dewasa mencatat dan menepati kesepakatan kecil. Bila keadaan darurat mengubah rencana, beritahukan dengan terbuka. Kita menghormati waktu orang lain ketika tidak membiarkan mereka terus menebak keadaan yang sebenarnya sudah kita ketahui.
Pesan di telepon itu akhirnya memperoleh jawaban yang mempunyai tanggal. Orang yang menunggu kini dapat memutuskan langkah berikutnya. Mungkin ia tetap kecewa karena harus menunggu lebih lama, tetapi setidaknya ia tidak lagi ditahan oleh ketidakjelasan. Janji yang matang memberi tempat bagi kesungguhan sekaligus keterbatasan manusia. Kita belajar mengucapkan lebih sedikit hal yang sanggup dipegang, lalu menyediakan waktu untuk memegangnya. Janji mulai mempunyai tubuh ketika kita memberinya tanggal dan menjaga orang lain tetap memperoleh kabar.
Penutup Artikel