Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Jari kita berhenti di atas sebuah pesan. Kemarin kita mengirim kabar itu dengan yakin; pagi ini, sumber aslinya menunjukkan sesuatu yang berbeda. Grup masih ramai membicarakannya. Belum ada yang menunjuk nama kita, belum ada yang meminta penjelasan. Kita dapat menutup layar dan berharap percakapan segera berganti. Namun ada satu pekerjaan yang diam-diam menunggu: kembali ke tempat kita pernah membuat orang lain percaya, lalu mengatakan bahwa informasi yang kita sampaikan keliru. Pekerjaan itu pendek di layar, panjang di dalam dada.
Kabar berpindah lebih cepat daripada koreksinya. Potongan video terlepas dari peristiwa, judul meninggalkan isi, dan satu dugaan memperoleh pakaian kepastian setelah diteruskan berkali-kali. Dalam percakapan keluarga maupun pekerjaan, kita ikut menjadi pengantar. Kadang kekeliruan juga berupa angka dalam laporan atau tuduhan tentang seseorang. Ketika bukti berubah, menghapus pesan asal saja belum tentu cukup. Orang yang telah menerima kabar itu mungkin sudah mengambil keputusan, menaruh curiga, atau menyampaikannya kepada orang lain. Jejak sebuah kesalahan terus berjalan meskipun pembuatnya telah diam.
Yang paling berat sering bukan menemukan fakta baru, melainkan menanggung perubahan pandangan orang terhadap diri kita. Kita ingin tetap dikenal teliti, berpengalaman, dan layak didengar. Maka penjelasan mulai disusun untuk mengurangi bagian kita: sumbernya meyakinkan, semua orang juga percaya, maksudnya hanya mengingatkan. Sebagian alasan mungkin benar. Tetapi ketika alasan memenuhi seluruh ruangan, tanggung jawab kehilangan tempat duduk. Kita memerlukan inṣāf, kesediaan berlaku adil juga ketika keadilan itu mengurangi keuntungan bagi diri sendiri. Ia meminta kita menyebut dengan jelas bagian yang memang kita kerjakan.
Dalam al-Fatḥ al-Rabbānī, Syeikh ‘Abd al-Qādir al-Jīlānī berulang kali membawa perhatian dari penampilan lahir menuju kesungguhan penghambaan. Nasihat tentang membenahi diri itu dapat kita jadikan cermin ketika nama baik terasa lebih mendesak daripada akibat perbuatan. Hati yang sedang belajar tunduk kepada الله mempunyai alasan untuk berhenti membela setiap tindakannya. Kita tetap manusia yang dapat salah. Justru pengakuan memberi kesempatan agar kesalahan itu berhenti menguasai langkah berikutnya. Kehormatan mendapat akar yang lebih kuat ketika tidak seluruhnya bergantung pada kemampuan terlihat benar.
Carol Tavris dan Elliot Aronson dalam Mistakes Were Made (but Not by Me) membahas pembenaran diri: cara manusia merapikan cerita agar tetap merasa tindakannya masuk akal. Penjelasan ini membantu kita mengenali mengapa bukti saja kadang tidak segera mengubah sikap. Menerima koreksi juga berarti menghadapi ketidaknyamanan tentang siapa diri kita. Karena itu, pisahkan kalimat “saya melakukan kesalahan” dari putusan “seluruh diri saya buruk”. Pembedaan tersebut membuka ruang untuk bertanggung jawab dengan sungguh-sungguh, tanpa menghabiskan tenaga untuk menyelamatkan citra atau menghukum seluruh kehidupan sendiri.
Dalam tradisi TQN, dzikir mengajak kita kembali menghadap الله ketika perhatian terseret oleh penilaian manusia. Di sela kegaduhan, kita dapat memeriksa apa yang sedang dipertahankan: kebenaran kabar atau kedudukan pembawanya. Ingatan itu kemudian perlu berbuah pada tindakan yang dapat dikenali orang lain. QS. al-Nisā’ [4]: 135 mengajarkan keteguhan menegakkan keadilan sekalipun terhadap diri sendiri. Membetulkan informasi yang kita sebarkan merupakan salah satu penerapan kecilnya. Pembacaan ini adalah ikhtiar etis kita hari ini, tanpa mengubah dzikir menjadi teknik untuk menghindari rasa tidak nyaman.
Hari ini, pilih satu kekeliruan yang sudah kita ketahui. Sampaikan koreksi kepada orang yang menerima pernyataan awal, melalui saluran yang sepadan dengan jangkauannya. Sebutkan bagian yang salah, informasi yang telah diperiksa, serta tindakan untuk mengurangi akibatnya. Bila ada orang dirugikan, tanyakan pemulihan apa yang dibutuhkan. Hindari menenggelamkan koreksi dalam pembelaan panjang. Simpan catatan perubahan bila urusannya menyangkut keputusan bersama. Kita juga dapat meminta bantuan pengelola grup atau rekan kerja agar pembetulan mencapai mereka yang tidak lagi membaca pesan terbaru.
Kebiasaan mengaku memberi pengaruh yang melampaui satu percakapan. Anak belajar bahwa orang dewasa boleh diperiksa. Rekan kerja melihat laporan yang keliru dapat diperbaiki sebelum merugikan lebih banyak orang. Orang yang sempat dituduh memperoleh kesempatan agar namanya dipulihkan di hadapan pendengar semula. Tentu pengakuan tidak otomatis menghapus seluruh akibat atau membuat kepercayaan segera kembali. Kita perlu menyediakan bukti perubahan berikutnya. Namun lingkungan yang memberi ruang bagi koreksi mempunyai kesempatan lebih besar untuk belajar daripada lingkungan yang menuntut setiap orang terus tampak sempurna.
Jari yang tadi berhenti kini menekan tombol kirim. Tidak ada kepastian semua orang akan menghargainya. Mungkin ada yang menyindir, mungkin percakapan tidak seketika pulih. Tetapi satu arah telah berubah: kita berhenti menambah jarak antara yang diketahui dan yang dikatakan. Seri tentang memperbaiki hidup dapat dimulai dari gerak sesederhana ini. Sebelum menata dunia yang luas, kita bersedia membetulkan satu jejak yang keluar dari tangan sendiri. Keberanian tumbuh ketika kita mendahului teguran dengan pengakuan, lalu memberi pengakuan itu pekerjaan untuk diselesaikan.
Penutup Artikel