Budi Rahman Hakim, Ph.D.
Rapat hampir selesai ketika seseorang melihat satu sambungan yang belum kuat dalam rancangan bersama. Ia menarik napas, mengangkat tangan sedikit, lalu menurunkannya kembali. Di ujung meja duduk orang yang dahulu pernah menjawab masukan dengan kemarahan. Semua tampak sepakat karena tidak ada suara yang berbeda. Rancangan itu kemudian disahkan. Keheningan di ruangan terasa tertib, tetapi ada pengetahuan yang tertinggal di tenggorokan seseorang. Kita mungkin pernah menjadi orang yang menahan suara itu. Kita juga mungkin pernah menjadi alasan orang lain menahannya.
Di banyak tempat, kesempatan berbicara tersedia di atas kertas. Ada rapat evaluasi, kotak saran, atau kalimat bahwa pintu pimpinan selalu terbuka. Namun orang belajar dari akibat yang benar-benar terjadi. Jika teguran dibalas sindiran, akses dikurangi, atau penugasan dibuat lebih sulit, undangan berbicara segera kehilangan arti. Di rumah pun demikian. Anak dapat mengetahui sesuatu yang perlu diperbaiki tetapi memilih diam karena pengalaman mengajarinya bahwa orang dewasa tidak suka disalahkan. Masalah lalu baru diketahui setelah kerugiannya terlalu besar untuk ditutup dengan satu percakapan.
Yang sedang dijaga oleh penolakan kita kadang bukan ketertiban, melainkan kebutuhan agar kedudukan terus terasa aman. Masukan terdengar sebagai penurunan kehormatan. Pertanyaan dianggap meragukan kesetiaan. Padahal orang dapat menghormati kita sambil melihat bagian pekerjaan yang luput dari perhatian kita. Qabūl al-naṣīḥah, kesediaan menerima nasihat, meminta hati menampung ketidaknyamanan itu sebelum tangan membalasnya. Kita perlu membedakan rasa tersinggung dari bahaya yang sungguh terjadi. Ada teguran yang disampaikan kurang rapi tetapi membawa pengetahuan penting untuk keselamatan orang banyak.
Al-Sulamī dalam ‘Uyūb al-Nafs wa Adwiyatuhā membicarakan cacat jiwa beserta jalan membenahinya. Cara memandang diri sebagai sesuatu yang perlu dirawat membantu kita berhenti menganggap setiap koreksi sebagai serangan. Jika penyakit batin mungkin luput dari pandangan pemiliknya, nasihat dapat membuka bagian yang belum terlihat. Kita tetap perlu menimbang isi dan cara penyampaiannya. Tetapi pemeriksaan itu sebaiknya dimulai setelah mendengar, bukan digunakan sebagai alasan agar pesan tidak pernah sampai. Wibawa memperoleh kedalaman ketika ia mampu menanggung kenyataan tentang keterbatasannya sendiri.
Amy C. Edmondson melalui The Fearless Organization membahas keselamatan psikologis dalam lingkungan kerja: keadaan ketika orang dapat mengambil risiko berbicara, bertanya, dan mengakui kesalahan tanpa takut dipermalukan. Ruang seperti ini tetap membutuhkan standar serta tanggung jawab. Tujuannya agar pengetahuan yang diperlukan tidak tersumbat oleh ketakutan sosial. Penerapan pada keluarga atau majelis merupakan perluasan renungan kita, bukan kesimpulan otomatis penelitian di semua tempat. Namun pertanyaannya berguna: perilaku apa dari pemegang kuasa yang membuat orang lain merasa aman membawa kabar yang kurang menyenangkan?
Adab dalam Tanbih memberi perhatian pada hubungan dengan mereka yang lebih muda maupun lebih lemah. Sikap lembut mendapat ujian ketika mereka membawa keberatan terhadap keputusan kita. Dzikir dapat menjadi tempat memeriksa dorongan membalas, lalu kita kembali mendengar dengan lebih utuh. QS. al-Zumar [39]: 18 memuji mereka yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik darinya. Dalam kehidupan bersama, mendengar memerlukan lebih dari telinga yang tidak tertutup. Kita perlu menjaga agar orang yang berbicara tidak kehilangan keamanan hanya karena telah membantu kita melihat kesalahan.
Pada pertemuan berikutnya, mintalah satu keberatan yang belum terdengar. Setelah seseorang menyampaikan, ulangi inti yang kita pahami dan tanyakan apakah sudah tepat. Tunda pembelaan sampai ia selesai menjelaskan. Catat bagian yang perlu diperiksa, siapa yang menindaklanjuti, serta kapan kabar diberikan. Bila masukan tidak dipakai, jelaskan alasannya dengan terbuka. Untuk perkara yang berisiko, sediakan jalur yang menjaga identitas dan perlindungan pelapor. Kita tidak dapat meminta keberanian secara murah dari orang yang harus menanggung akibat lebih besar daripada diri kita sendiri.
Pemimpin mempunyai tanggung jawab khusus untuk mengubah pengalaman sesudah teguran. Ucapan terima kasih tidak cukup bila pemberi masukan kemudian disisihkan. Pengurus perlu menolak pembalasan dan menyediakan pemeriksaan yang adil terhadap laporan. Pada saat yang sama, nasihat tidak memberi izin mempermalukan, memfitnah, atau menyebarkan tuduhan tanpa dasar. Keamanan berbicara berjalan bersama ketelitian mendengar. Ruang yang sehat memungkinkan keberatan diperiksa menurut isinya, bukan menurut dekat atau jauhnya pembawa pesan dari pusat kuasa. Dari sana, orang belajar bahwa perhatian mereka mempunyai tempat dalam keputusan bersama.
Tangan yang tadi turun perlahan dapat terangkat lagi pada rapat berikutnya. Satu sambungan ditunjukkan sebelum rancangan dipakai, dan pekerjaan bersama memperoleh kesempatan menjadi lebih kuat. Orang yang memimpin mungkin tetap merasakan malu sesaat. Tetapi ia tidak lagi sendirian memikul kewajiban melihat semuanya. Ada mata lain yang bersedia membantu karena ruangan memberi tempat bagi kejujuran. Kita dapat mulai membangun tempat itu dari cara menjawab satu kalimat yang hari ini terasa mengusik. Sebuah ruang menjadi aman ketika orang yang menunjukkan retak tidak ikut dibuat takut untuk tinggal.
Penutup Artikel